Congregatio Discipulorum Domini

Para anggota Congregatio Discipulorum Domini (Kongregasi Murid-murid Tuhan) menghayati hidupnya sebagai murid dan senantiasa belajar pada Yesus Kristus, sang Guru Agung. Kunjungan kepada Sakramen Mahakudus menjadi ungkapan cinta dan penyerahan diri secara total. Dari sinilah para anggota menimba kekuatan untuk karya kerasulannya sebagai murid yang diutus untuk mempersiapkan orang menyambut Kristus di dalam hidupnya (bdk. Luk 10:1-12).

23 December 2009

CDD hadir di Keuskupan MEDAN

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1949, seorang imam CDD Pastor Yoseph Wang CDD pernah menginjakkan kaki di keuskupan Medan. Namun karena permintaan Mgr. J.A. Albers O.Carm., Pastor Wang kemudian pindah ke Malang untuk melayani umat yang membutuhkan pelayanan CDD. Setelah lebih kurang 60 tahun berlalu, pada hari ini 28 Oktober 2009, Kongregasi Murid-murid Tuhan menjalin kembali kerjasama dengan keuskupan Medan dengan mengirim Pastor Laurentius Prasetyo CDD untuk pergi dan menjalankan tugas perutusan di Keuskupan Medan. Beliau akan tinggal dan membantu di salah satu Paroki di Kota Medan. Pastor Prasetyo CDD yang terkenal dengan ayat-ayat cantiknya berangkat ke kota Medan dihantar oleh Pastor Yuki CDD, wakil provincial CDD Indonesia. Selamat bertugas dan sukses selalu dalam Tuhan.

Malam Penyegaran Rohani

Mandarin Centre yang dipusatkan di Pusat Pelayanan Pastoral kategorial bahasa Mandarin yang ditangani oleh imam-imam CDD pada tgl 8 Agustus 2009, berhasil mengadakan malam doa dan kesenian sebagai salah satu bentuk pewartaan di kota Jakarta. Pastor Hilarius Sutiono CDD dipercaya untuk mengkoordinir dan melaksanakan kegiatan bertaraf international ini. Kegiatan ini didukung dan dibantu oleh umat berbahasa mandarin. Dalam kegiatan ini sejumlah besar umat katolik muda dari berbagai Negara seperti Hongkong, Singapura dsbnya berhasil diundang dan hadir di Jakarta. Mereka datang dan mengadakan malam pelayanan di Jakarta. Ribuan umat hadir memadati hall yang disediakan oleh panitia. Ada satu hal menarik dalam kegiatan ini yakni gerakan “satu umat membawa satu teman yang belum katolik”. Acara berlangsung dengan baik dan meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Rupanya pelayanan umat berbahasa mandarin dari hari ke hari semakin dibutuhkan oleh umat, demi penyelamatan jiwa-jiwa.

Pertemuan Antar Propinsi CDD dengan Pater General

Dari tgl 8 sd 10 Okt 2009 diadakan pertemuan antar provinsi CDD dengan Generalat CDD yang berkedudukan di Taiwan. Dalam pertemuan ini, setiap propinsi memberikan Laporan tentang situasi dan kegiatan setiap propinsi. Pertemuan ini juga membicarakan tentang kerja sama antar propinsi dan generalat. Pertemuan dwi tahunan ini terasa istimewa karena juga diikuti dengan persiapan kapitel generalat yang akan diadakan pada tgl 8 November 2010 di Taipei. Pertemuan antar propinsi yang diadakan di Taipei, Taiwan ini berlangsung dalam semangat persaudaraan. Dalam pertemuan ini juga dibicarakan tentang persiapan provinsi CDD Indonesia untuk misi ke Cina bagian selatan. Marilah kita mempersiapkan diri untuk memulai suatu karya misi ke luar negeri.

Renovasi Rumah Studen CDD

Pertambahan jumlah calon dan frater CDD dalam tahun-tahun terakhir ini cukup menggembirakan. Setelah lebih kurang tujuh tahun vakum, dua tahun terakhir ini, CDD mulai memiliki lagi sejumlah frater novis dan skolastik. Pertambahan jumlah calon yang signifikan ini menuntut pula pembenahan dalam bidang papan. Maka selama satu tahun terakhir ini, Rumah Studi CDD yang terletak dalam komplek sekolah St. Yusup direnovasi. Domus Costantini Skolastik CDD untuk para frater student telah selesai di renovasi dan saat ini sedang dikerjakan design pembangunan secara keseluruhan untuk tahap kedua. Semoga dengan rumah baru ini, semangat belajar dari para skolastik CDD semakin berkobar seperti yang dikatakan oleh Bapa pendiri kita “jadilah imam yang saleh dan terpelajar”.

Kaul Perdana Para Novis Angkatan 2009

Tanggal 20 Juli 2009, bertempat di kapel St. Yusup Blimbing Malang, diselenggarakan misa kudus kaul perdana empat orang Costantinian yang telah menyelesaikan masa novisiatnya. Misa kudus berlangsung dengan hikmat dan berjalan dengan lancar. Misa pengucapan kaul perdana dalam Kongregasi Murid-murid Tuhan ini dipimpin oleh Pater Lodewiyk Tshie CDD, provincial Indonesia dan didampingi oleh Pater Aguslie CDD, prefek student dan Pater Sukamto CDD, magister Novis. Disamping itu, Pater Marianus CDD yang bertugas di asrama St Yusuf dan Pater Johan CDD yang bertugas di Pontianak juga ikut mendampingi dalam misa kudus ini. Misa pengucapan kaul perdana yang diselenggarakan pada tahun ini terasa istimewa sekali. Hal ini disebabkan karena pada saat misa berlangsung, Pater Stephen Ng, Superior General Kongregasi Murid-murid Tuhan juga hadir dan turut mengambil bagian dalam konselebrasi.

Inilah empat orang yang mengucapkan kaul perdananya :
(1) Fr. Petrus Diaz CDD dari keuskupan Larantuka
(2) Fr. Andreas Setiadi CDD dari keuskupan Agung Pontianak
(3) Br. Romansa CDD dari Keuskupan Sanggau
(4) Fr.Alexander Ignatius Sujasan dari Keuskupan Agung Pontianak

Retret Tahunan dan Seminar Kepemimpinan Celso Costantini

Hidup pelayanan yang terus menerus dari para imam dan bruder CDD sepanjang tahun adalah suatu karya yang agung dari Tuhan sendiri. Namun pelayanan yang terus menerus juga membutuhkan suatu saat hening atau saat “berhenti” untuk meninba kekuatan baru dari Tuhan. Oleh sebab itu, Para imam dan bruder CDD mengadakan retret tahunan CDD yang dibimbing oleh Romo Sebastian OCSO. Seusai Retret dilanjutkan dengan seminar kepemimpinan menurut Celso Card. Costantini yang disampaikan oleh Rm. Yuki,CDD. Semua kegiatan ini berlangsung di Dharmaningsih Pacet dari tgl 29 Juni sd tgl 4 Juli 20. Semoga semangat baru menyemangati para imam dan bruder CDD dalam tugas-tugas mendatang.

Kunjungan Superior General CDD

Pada tanggal 10 Juli sampai 22 Juli 2009, Pater Stephen Ng, Superior General CDD mengadakan kunjungan pastoral ke Propinsi Indonesia. Pada kesempatan ini, Pater General mengadakan visitasi ke komunitas CDD Pontianak, Jakarta dan Malang. Dalam kesempatan ini, Pater General berkenan mengadakan temu wicara dengan para imam, bruder dan frater CDD yang tergabung dalam propinsi Indonesia. Bahkan dalam kunjungan ini, Pater General juga mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan para karyawan dari unit karya pendidikan yang dikelola oleh CDD Indonesia di Malang dan Pontianak. Pater General juga membuka pintu bagi konfrater Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke Taiwan, bahkan sangat menganjurkan para anggota Indonesia untuk mengadakan misi ke Taiwan.

Penerimaan Novis Baru CDD

Tanggal 10 Juli 2009 bertempat di Biara Fatima CDD, Batu telah diselenggarakan misa penerimaan para novis baru CDD. Dalam misa ini, para novis menerima jubah sebagai tanda dimulainya masa novisiat dan lambang pengingkaran diri dan selanjutnya mau belajar untuk mencintai dan hidup hanya bagi Kristus. Inilah lima novis baru CDD :

(1) Benediktus Tety Akoit berasal dari Paroki St Yosep, Manamas-Timor, Keuskupan Atambua.
(2) Bernadus Junianto berasal dari Paroki St Yosep, Ngawi, Keuskupan Surabaya.
(3) Hendrique de Jesus Tapo , berasal dari Paroki Ratu Damai, Fulur, Atambua.
(4) Yanerius Mitan Tebuk, berasal dari paroki St Mikael, Nita, Maumere.
(5) Nikolaus Ena Hokeng, berasal dari Paroki St Maria Ratu Semesta Alam, Keuskupan Larantuka.

Mari kita mendoakan mereka semua agar dapat menjalani masa novisiat dengan penuh kegembiraan.

BUKU DOA PERINGATAN DALAM CDD

Tahun ini, Kongregasi Murid-Murid Tuhan menerbitkan sebuah buku doa lampiran untuk ibadat harian yang berisi para santo pelindung dan peringatan-peringatan dalam CDD. Buku ini masih bersifat ad experimentum dan diharapkan agar para konfrater memberikan apresiasinya dengan mengirimkan kritikan yang konstruktif untuk penyempurnaan buku ini. Buku doa ini ditulis dan disusun oleh Fr A. Ignatius Sujasan CDD dan diberi judul Benedicite Domino Omnia Opera Eius.

PENERBITAN BUKU SEJARAH CDD AWALI

Untuk mengenal sejarah CDD dengan baik dan mendalam dibutuhkan suatu sarana yang memadai. Dalam hal ini, kita dapat menelusurinya melalui suatu buku sejarah. Untuk itu, provinsialat CDD Indonesia menerbitkan sebuah buku yang ditulis oleh Fr A. Ignatius Sujasan CDD dengan judul “Dari Xuanhua Menuju ke Taiwan”. Buku ini berbicara soal CDD awali dan perkembangannya sampai awal tahun 2000-an. Dalam arti tertentu, buku ini merupakan buku pertama tentang sejarah CDD awali dalam bahasa Indonesia yang cukup lengkap. Meskipun demikian, buku ini masih akan terus disempurnakan dengan masukan-masukan dari para konfrater. Maka diharapkan agar para konfrater membaca buku ini dan memberikan tanggapannya.

SEMINAR FORMATIO CDD INTERNASIONAL

Generalat Kongregasi Murid-murid Tuhan yang berkedudukan di Taiwan mengundang para formator CDD dari tiga propinsi untuk menghadiri Seminar tentang Formatio. Kegiatan formatio ini dihadiri oleh 3 Provinsi yakni propinsi Zhonghua (China), Malaysia dan Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di tegaljaya, Bali. Seminar berlangsung dari tgl 12 sd 14 Mei 2009. Dalam seminar ini, berbagai kegiatan dilakukan untuk membahas dan semakin mendalami model formatio CDD. Melalui Sharing pengalaman, kerja sama dan inforcement terhadap pedoman pendidikan CDD, diharapkan para formator semakin menemukan suatu bentuk yang lebih baik bagi pedoman pembinaan para calon Costantinian. Kegiatan seminar ini dihadiri oleh Pater General CDD, Stephen Ng CDD. Dari propinsi Indonesia hadir Pater Provinsial dan wakil Propinsial, magister Novisiat CDD Pastor Sukamto CDD dan Prefek Studen CDD Pastor Aguslie CDD.

LOKAKARYA PROMOSI PANGGILAN KWI

Pastor Rudy Saleh CDD mengikuti Lokakarya Promosi Panggilan Hidup Bakti yang berlangsung dari tgl 11 sd 14 Mei 2009 yang diselenggarakan oleh Komisi Seminari KWI. Kegiatan ini berlangsung di wisma Samadi, klender Jakarta. Untuk mengakses berita ini, kita dapat membaca majalah Hidup no 21, 24 Mei 2009. Ketika di wawancarai oleh wartawan HIDUP, Pastor Rudy Saleh mengatakan bahwa untuk saat ini, jarang sekali ada doa bersama dan makan bersama dalam keluarga-keluarga katolik. Orang tua sibuk dengan urusannya dan anak - anak sibuk dengan berbagai kegiatan. Dalam kondisi demikian, keadaan semakin tak kondusif karena orangtua tidak menanamkan nilai nilai rohani kepada anak anaknya sejak dini. Padahal keluarga adalah seminari pertama dan utama. Bahkan harus dikatakan bahwa keluargalah yang menjadi tempat pertama dan utama dalam pembinaan iman anak. Mari kita memberi apresiasi Kepada Pastor Rudy Saleh dan kita ucapkan juga selamat berkarya di RRC Ambawang, Pontianak.
Semoga bekal lokakarya yang telah diikuti semakin membantu Pastor Rudy untuk berkarya di lading Tuhan. Layanilah anak anak, sebagaimana Yesus membiarkan anak anak datang kepadaNya lalu.

Iman Katolik: Pilih Pemakanan atau Kremasi

(FX Didik Bagiyowinadi Pr)
29 10 2009

Sebagai orang Katolik manakah yang boleh kita pilih: pemakaman atau kremasi? Keduanya diperbolehkan. Tetapi manakah yang sebaiknya dipilih, kita simak pernyataan Gereja ini, “Gereja menganjurkan dengan sangat, agar kebiasaan saleh untuk mengebumikan jenazah dipertahankan; namun Gereja tidak melarang kremasi, kecuali cara itu dipilih demi alasan-alasan yang bertentangan dengan ajaran kristiani” (Kan. 1176$3).

Prioritas pada Pemakaman Gereja memprioritaskan jenazah untuk dimakamkan daripada dikremasi dengan alasan:

1. Hal itu sesuai dengan praktek dalam Perjanjian Lama (Abraham, Ishak, Musa, dsb) dan Perjanjian Baru (Yesus, Stefanus). Bahkan Perjanjian Lama melihat jenazah yang tidak dikuburkan tetapi hangus dalam api sebagai hukuman Tuhan, mis. Sodom-Gomora (Kej 19:1-29), Jezebel (2 Raj 9:30-37),dan keturunan Ahab (1 Raj 21:17-24).
2. Dengan dimakamkan simbolisasi untuk dibangkitkan oleh Kristus pada akhir zaman menjadi lebih jelas. Demikian pula sesuai dengan ilustrasi St. Paulus seperti benih yang ditaburkan ke tanah (1 Kor 15).
3. Pada masa penganiayaan Gereja oleh kekaisaran Romawi, jenazah para martir dimakamkan secara rahasia di kuburan bawah tanah yang disebut dengan katakombe. Mereka tidak mengikuti kebiasaan kafir Romawi yang membakar jenazah.
4. Gereja Katolik baru mengizinkan praktek kremasi pada tahun 1969. Namun, dengan memberi catatan bahwa alasan kremasi tidak boleh bertentangan dengan iman kristiani.
Mengapa Kremasi Diperkenankan?
Ada banyak alasan mengapa orang Katolik memilih kremasi dan hal itu bisa diterima oleh Gereja. Misalnya, alasan higienis pada jenazah yang mempunyai penyakit menular. Alasan ekonomis karena sedikitnya lahan untuk pemakaman, misalnya di Singapura. Alasan praktis dalam kasus korban kecelakaan yang jenazahnya hancur. Atau, bisa jadi sekedar mengikuti tradisi dan kebiasaan leluhur tanpa harus menolak iman akan kebangkitan badan.

Kremasi dan Kebangkitan Badan
Dalam diskusi apakah kremasi itu tidak bertentangan dengan iman Kristen, salah satu hal yang dipersoalkan adalah bagaimana mungkin orang yang dikremasi bisa turut dalam kebangkitan badan? Untuk menjawab keberatan ini mari kita melihat ajaran St. Paulus dalam 1 Kor 15:44, “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah”. Jadi, yang dibangkitkan pada akhir zaman nanti adalah tubuh rohaniah yang berbeda dengan tubuh alamiah yang dimakamkan, dikremasi, hilang di laut, hancur terkena bom Bali, ataupun dimangsa binatang liar. Bukankah tubuh alamiah yang dimakamkan pun akan terurai dengan tanah?

Bagaimanakah tubuh rohaniah itu? Gambaran tubuh rohaniah setelah kebangkitan bisa kita lihat pada Tubuh Yesus setelah kebangkitan, di satu pihak ada kemiripan dengan tubuh-Nya sebelum meninggal, ada lima luka di telapak tangan, lambung, dan kedua kaki. Tetapi, di lain pihak tidak sama persis dengan Tubuh-Nya saat disalibkan sehingga para murid sulit untuk langsung mengenali-Nya. Hal ini berbeda dengan kebangkitan Lazarus yang kemudian akan mati lagi.

Mungkin Anda bertanya, bagaimana mungkin tubuh yang dikremasi dan menjadi abu [sebenarnya partikel-partikel tulang itu bisa dibangkitkan oleh Tuhan? Jawabannya tentu saja Tuhan jauh lebih kuasa daripada pemikiran kita. Apalagi yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Dalam Kitab Wahyu 20:13 juga disebutkan penghakiman bagi mereka yang tidak dimakamkan, “Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.” Jadi, apakah jenazah kita dimakamkan ataukah dikremasi kita tetap akan dihakimi dan dibangkitkan dalam tubuh rohaniah. Jiwa kita yang abadi tidak akan hilang, melainkan menerima kebahagiaan kekal atau hukuman kekal.

Alasan yang Bertentangan dengan Iman Katolik
Hukum Gereja di atas memberi syarat bahwa alasan kremasi tidak boleh bertentangan dengan iman Katolik, khususnya iman akan kebangkitan badan. Setidaknya ada dua alasan kremasi yang bertentangan dengan iman Katolik:
a. Orang-orang Yunani dan Romawi mengkremasi jenazah dengan alasan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Kematian justru melepaskan jiwa dari penjaranya. Maka mereka merasa tak perlu repot-repot lagi dengan jenazah yang bagi mereka sekedar penjara jiwa. Paham Yahudi-Kristiani melihat badan-jiwa-roh manusia adalah satu-kesatuan. Maka setelah kematian mereka menantikan adanya kebangkitan badan. Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian memberi jaminan akan kebangkitan kita dan kemenangan atas kuasa maut.
b. Mereka yang menerima paham reinkarnasi menganggap bahwa kremasi akan mempercepat proses manusia lepas dari putaran reinkarnasi. Dalam paham panteisme, kremasi menjadikan jenazah orang itu segera bersatu dengan alam semesta. Paham demikian bertentangan dengan iman kristiani. Setiap orang diciptakan Tuhan secara unik. Pada akhir hidupnya masing-masing mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi” (Ibr 9:27). Mungkin ada yang berpikir, apakah surga bisa menampung semua orang yang pernah hidup di dunia ini sejak zaman purbakala? Pemikiran demikian terlalu materialistis. Kita bisa memegang janji Tuhan Yesus sendiri, “Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal.”

Abu Kremasi Mesti Diapakan?
Dalam Order of Christian Funerals bagian Appendiks II no. 417 yang diterbitkan pada tahun 1997, diberikan catatan bagaimana kita mesti memperlakukan abu kremasi [sebenarnya partikel-partikel tulang]. Dua praktek yang dilarang adalah: penaburan/pelarungan abu kremasi ke laut/sungai, entah dari udara atau dari pantai, dan penyimpanan abu kremasi di rumah sanak kerabat atau sahabat. Gereja menganjurkan agar abu kremasi itu dimakamkan di pemakaman atau disemayamkan di mausoleum atau columbarium. Saat ini di tempat ziarah Pohsarang, Kediri, sudah ada tempat columbarium untuk menyemayamkan abu kremasi.
Gereja menganjurkan agar abu kremasi dimakamkan atau disemayamkan di mausoleum/columbarium agar ada tempat untuk mengingat pribadi yang meninggal sekaligus tempat kita berziarah dan berdoa.

Demikianlah beberapa hal yang mesti dipertimbangkan dalam memilih pemakaman atau kremasi. Maka dalam kondisi normal sebaiknya kita lebih memilih pemakaman Katolik. Namun bila suara hati kita condong memilih kremasi dengan alasan yang tidak bertentangan dengan iman Katolik, Gereja akan tetap melayani.

sumber : http://www.imankatolik.or.id/pilih_pemakaman_atau_kremasi.html

28 October 2009

PASTOR YANDHIE CDD DAN ALAT MUSIK ERHU

Celso Costantini, pendiri CDD menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan yang baik akan kebudayaan setempat. Melalui penguasaan kebudayaan yang baik, pewartaan iman yang kita lakukan akan lebih efektif dan efisien. Salah satu pemahaman budaya yang bisa kita lakukan adalah dengan mengenal dan “menguasai” alat musik daerah. Pastor Yandhie Wu CDD dalam berbagai kesempatan sering menggunakan alat musik ERHU untuk menyampaikan kabar gembira Injil kepada orang-orang. Di majalah Presbyterium edisi 8 mei 2009, Pastor Yandhie Wu dimunculkan sebagai salah satu tokohnya.
Presbyterium adalah salah satu majalah yang berbicara dan memuat tentang pembinaan calon imam dan imam. Dalam majalah ini, Confrater kita tampak dengan mantap memainkan alat musik ERHU. Pastor Yandhie menggunakan alat musik berdawai tradisional cina ini sebagai media pewartaan Iman. Sebagaimana ditekankan oleh Bapa pendiri kita, Pewartaan iman melalui kebudayaan merupakan salah satu ciri khas dari kongregasi kita. Kepada Pastor Yandhie, kita ucapkan selamat berkarya dan terus melayani Tuhan tanpa pamrih.
Tuhan memberkatimu selalu.

06 August 2009

MENDAKI GUNUNG BROMO

MENDAKI GUNUNG BROMO
(Sebuah sharing pengalaman Fr. Fol Piluit CDD)


Pernahkah Anda berkunjung ke gunung Bromo dan mendaki ke atas untuk melihat kawahnya melewati lautan pasir? Saya menggambarkan bagaimana perjalanan hidup manusia seperti perjalanan mendaki ke gunung Bromo. Selama perjalanan tersebut pertama-tama yang saya lihat adalah lautan pasir yang luas, kering dan tandus hanya ilalang yang tumbuh di sana. Untuk mencapai perjalanan ke atas tersebut tentu saja sangat letih, lelah, dan panas. Berbagai halangan muncul misalnya banyak debu dan abu yang sangat lembut masuk melalui lubang hidung sehingga menyesakkan pernafasan, bau yang tidak sedap, dsb. Namun perjalanan tersebut menjadi sedikit ringan karena adanya teman yang setia ada di samping kita, saling bercerita membuat perjalanan tersebut tidak terasa berat. Untuk mencapai puncak gunung Bromo tersebut tersedia pula kuda untuk menghantar para pengunjung sampai pada anak tangga paling bawah kemudian para pengunjung mendaki anak tangga untuk sampai ke puncak gunung. Selain itu dibutuhkan perjuangan dalam diri kita sendiri untuk mau mencapai puncak gunung.
Ada kalanya dalam perjalanan tersebut timbul rasa putus asa, malas untuk melanjutkan perjalanan. Namun semuanya harus diatasi. Demikian dengan perjalanan hidup manusia, yang sangat berat di dunia ini bagaikan tanah yang kering, tandus dan banyak pencobaan / halangan yang muncul. Halangan-halangan tersebut harus kita hadapi dan kita atasi untuk mencapai tujuan kita yakni kebahagiaan kekal di surga. Maka tujuan perjalanan ke Bromo adalah untuk mencapai puncak gunung tersebut maka tujuan perjalanan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan kekal di surga. Halangan-halangan yang muncul bagaikan abu dan debu adalah halangan-halangan kecil yang mungkin kita sepelekan namun akan menjadi suatu masalah yang menghalangi kita mencapai tujuan kita misalnya: menyepelekan waktu, malas, dsb. Maka: “Kerjakanlah segala sesuatu entah besar maupun kecil seperti kita mengerjakan demi Tuhan bukan demi manusia.” Dalam mengarungi perjalanan hidup ini hendaknya kita selalu bersama-sama jangan pernah sendirian. Manusia tidak akan sanggup mengarungi hidup di dunia ini secara sendirian. Manusia memerlukan pendamping, sahabat sebagai teman perjalanan untuk berbagi suka dan duka agar perjalanan menjadi lebih ringan dan akhirnya dapat mencapai tujuannya. Maka: “Jangan pernah memilih-milih sahabat dan membenci manusia, tetapi bersahabat dan doakanlah mereka semua entah mereka kawan, orang yang tidak kita sukai ataupun musuh kita, sebab mereka akan meringankan beban kita dan membantu kita untuk mencapai tujuan hidup kita.” Untuk mencapai puncak gunung Bromo beberapa pengunjung menggunakan kuda agar lebih cepat, tidak lelah, dsb. Ada sisi negatif dan positif yang dapat kita renungkan. Sisi negatif: inilah yang terjadi di kehidupan masyarakat kita saat ini. Orang tidak mau bersusah-susah, tidak tahan untuk menderita sejenak dan budaya instan. Orang tidak lagi mau berpikir untuk menggapai nilai dari penderitaan. Orang akan mencapainya kalau dapat dihitung secara materi, untuk yang secara non materi tidak akan dianggap. Bahkan dari sinilah timbul sikap egoisme yang sangat besar. Orang lain harus mengutamakan aku. Ingatlah: “Untuk mencapai kebahagiaan kekal di surga tidak tergantung atau ditentukan dari banyaknya materi kita melainkan ditentukan melalui iman akan Allah dan perbuatan baik kita terhadap sesama kita.” Sisi positif yang dapat kita ambil adalah segala fasilitas membawa kita untuk mencapai tujuan kita bukan menyalahgunakan fasilitas untuk kepuasan pribadi sehingga menyimpang dari tujuan hidup kita. Dan inilah yang paling penting dalam mencapai tujuan yakni ada usaha / perjuangan dalam diri kita sendiri.. Apapun tujuan manusia tidak dapat tercapai jikalau dari dalam diri manusia itu sendiri tidak ada usaha untuk mencapainya. Janganlah pernah untuk menghindari masalah tetapi hadapilah masalah tersebut. Masalah pasti akan ada di dalam hidup ini tetapi kita harus menghadapinya agar kita dapat mencapai tujuan umat manusia yakni kebahagiaan kekal abadi di surga. Amin.

01 August 2009

EKARISTI PENERIMAAN NOVIS BARU CDD ANGKATAN 2009

Inilah lima orang Pemuda yang ingin HIDUP bagi Tuhan.

Tanggal 10 Juli 2009 bertempat di Biara Fatima CDD, Batu telah diselenggarakan misa penerimaan para novis baru CDD. Dalam misa ini, para novis menerima jubah sebagai tanda dimulainya masa novisiat dan lambang pengingkaran diri dan selanjutnya mau belajar untuk mencintai dan hidup hanya bagi Kristus.
Misa berlangsung dengan hikmat dan dipimpin oleh Pater Provinsial CDD, Pater Lodewiyk CDD dan didampingi oleh Pater Agus Lee CDD dan Pater Sukamto CDD. Misa berlangsung meriah dan diramaikan dengan kehadiran frater dan bruder CDD serta beberapa umatDalam khotbahnya, Pater Lodewiyk menekankan pentingnya hidup novisiat dan perlunya para novis mencari dan menemukan Tuhan dalam keseluruhan dinamika hidup dinovisiat. Hidup novisiat bukanlah hidup bersantai-santai tetapi adalah hidup untuk menempa diri agar kelak dapat menjadi imam yang baik.
Selesai misa, diadakan makan siang bersama di ruang makan provinsialat CDD. Acara berlangsung dengan meriah dan penuh suasana kekeluargaan.

para novis baru CDD angkatan 2009 bersama Pater Provinsial, Pater Magister dan Prefek Studen CDD

Inilah lima novis baru CDD
Benediktus Tety Akoit lahir di Fatumtasa (kefa) 16 april 1988. Fr Beni berasal dari Paroki St Yosep manamas -timor keuskupan atambua dan adalah lulusan SMAK Suria Atambua dan kemudian masuk postulat Stella Maris di Malang.

Bernadus Junianto lahir di Ngawi, 10 juni 1989, Fr Bernard berasal dari Paroki St Yosep - ngawi keuskupan surabaya dan belajar di SMAK ST Vinsensius A Paulo, Blitar kemudian masuk postulat Stella Maris Malang

Hendrique de Jesus Tapo , lahir di atambua 28 desember 1986. Fr Hendrik berasal dari Paroki Ratu damai fulur atambua dan lulus dari SMAN I Atambua kemudian masuk Postulat Stella Maris di Malang

Yanerius Mitan Tebuk, lahir di Maumere 10 desember 1984 dan Fr Yanes berasal dari paroki St mikael nita maumere dan lulus dari SMK Sadar Wisata Ruteng kemudian masuk Postulat di Ruteng

Nikolaus Ena Hokeng, lahir di larantuka, 29 mei 1982, Fr Niko berasal dari PAroki St Maria Ratu semesta alam keuskupan larantuka dan lulus dari SMK N Maumere kemudian masuk postulat Stella Maris Malang.

Mari kita mendoakan mereka semua agar dapat menjalani masa novisiat dengan penuh kegembiraan.

atas:para frater novis 2008 dan novis baru 2009, bawah : Para frater dan bruder CDD bersama P.Agus, P.Sukamto dan Pater Provinsial CDD
Salam dan doa
Ignas Huang CDD

23 June 2009

KUNJUNGAN SUPERIOR GENERAL KONGREGASI MURID-MURID TUHAN

Kunjungan SUPERIOR GENERAL
KONGREGASI MURID-MURID TUHAN
Ke Propinsi INDONESIA

Pada tanggal 10 Juli sampai 22 Juli 2009, Pater Stephen Ng, Superior General CDD mengadakan kunjungan pastoral ke Propinsi Indonesia. Pada kesempatan ini, Pater General mengadakan visitasi ke komunitas CDD Pontianak, Jakarta dan Malang. Dalam kesempatan ini, Pater General berkenan mengadakan temu wicara dengan para imam, bruder dan frater CDD yang tergabung dalam propinsi Indonesia. Bahkan dalam kunjungan ini, Pater General juga mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan para karyawan dari unit karya pendidikan yang dikelola oleh CDD Indonesia di Malang dan Pontianak.
Dalam setiap pembicaraan, Pater Stephen Ng menekankan pentingnya propinsi Indonesia bagi Kongregasi Murid-murid Tuhan karena melalui propinsi ini, diharapkan tumbuh dan berkembangnya panggilan, khususnya panggilan dalam hidup membiara. Pater General yang fasih berbicara bahasa melayu ini menekankan pentingnya hidup bersama dan terutama hidup persaudaraan dalam komunitas-komunitas CDD.

Pater general yang pernah menjadi rector seminari menengah di Malaysia ini sangat mengagumi dan terutama memuji semangat pelayanan yang telah diperlihatkan oleh konfrater-konfrater CDD Indonesia. Dalam kunjungan ini, Pater general juga memberikan gambaran singkat tentang perkembangan CDD di dunia. Khususnya para Costantinian di tanah China. Model dan gaya pembinaan yang dilakukan di China sangat berbeda dengan propinsi lain. Hal ini terutama disebabkan oleh situasi dan kondisi setempat yang tidak memungkinkan. Dalam hal ini, pater general yang pernah menjabat sebagai provincial CDD Malaysia ini mengajak para anggota untuk senantiasa mendoakan para konfrater CDD yang berada di China. General yang berasal dari Malaysia ini mengajak para konfrater untuk selalu mengingat para costantinian yang bekerja di tanah China dalam doa-doa setiap hari.

Mengenai propinsi Indonesia, pater general menggarisbawahi bahwa propinsi ini adalah propinsi yang subur dalam panggilan dan karya. Beliau sangat bangga dengan segala usaha yang telah dijalankan oleh para anggota CDD Indonesia. Untuk para Novis, Pater general menekankan pentingnya masa novisiat sebagai saat untuk pengudusan diri dan juga masa transformasi kedalam mental Kristus sendiri. Maka kita semua perlu bersemangat dalam hidup doa dan komunitas. Dalam pertemuan dengan para frater skolastik, pater general menekankan perlunya memadukan hidup doa dan studi dalam kesatuan yang sinergis. Dalam kunjungan ini, Pater General juga membuka pintu bagi konfrater Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke Taiwan bahkan sangat dianjurkan pula untuk mengadakan misi ke Taiwan.
Akhirnya, waktu jualah yang harus menyelesaikan semua kunjungan ini. Selamat jalan pater general dan sampai bertemu dalam visitasi berikutnya.

Salam dan doa
Ignas Huang CDD

KAUL PERDANA FRATER-FRATER CDD

Kaul Perdana dalam Kongregasi Murid – Murid Tuhan

Tanggal 20 Juli 2009, bertempat di kapel St Yusup Blimbing Malang, diselenggarakan misa kudus kaul perdana empat orang Costantinian yang telah menyelesaikan masa novisiatnya. Misa kudus berlangsung dengan hikmat dan berjalan dengan lancar. Misa pengucapan kaul perdana dalam kongregasi Murid-murid Tuhan ini dipimpin oleh Pater Lodewiyk Tshie CDD, provincial Indonesia dan didampingi oleh Pater Agus Lie CDD, prefek student dan Pater Sukamto CDD, magister Novis. Disamping itu, Pater Marianus CDD yang bertugas di asrama St Yusuf dan Pater Johan CDD yang bertugas di Pontianak juga ikut mendampingi dalam misa kudus ini.
Setiap kali kita mengikuti dan menyaksikan perayaan pengucapan kaul, kita diajak untuk melihat kembali hidup panggilan kita masing-masing. Pater Provinsial menekankan pentingnya hidup bersama dalam meniti panggilan hidup. Pengucapan kaul perdana bukanlah akhir dari suatu proses pembinaan di novisiat namun adalah suatu kelanjutan yang berkesinambungan dalam seluruh proses formatio. Pater Lodewiyk juga mengutip pengalaman hidup dari Maria dan Marta yang adalah contoh dari cara hidup yang memadukan doa dan kerja. Seorang biarawan yang baik akan selalu memadukan hidupnya dengan gerakan doa dan kerja dalam satu gerakan yang sinergis.
Misa pengucapan kaul perdana yang diselenggarakan pada tahun ini terasa istimewa sekali. Hal ini disebabkan karena pada saat misa berlangsung, Pater Stephen Ng, Superior General kongregasi Murid-murid Tuhan juga hadir dan turut mengambil bagian dalam konselebrasi. Beliau memang diundang oleh provinsialat untuk menghadiri misa pengucapan kaul perdana ini. Menurut Pater general, inilah kali pertama ia mengikuti misa pengucapan kaul perdana CDD di propinsi Indonesia dan beliau sangat terkesan.
Setelah misa selesai, Pater provincial menyampaikan sepatah dua patah kata yang disampaikan oleh Pater Yuki CDD, wakil provincial Indonesia. Pada kesempatan yang sangat baik ini, Pater General CDD juga berkenan menyampaikan sepatah dua patah kata yang sangat meneguhkan para frater yang sedang berpesta. Pater General menyampaikan sambutan dalam bahasa mandarin dan diterjemahkan oleh Pater Agus Lie CDD.
Setelah perayaan syukur selesai, para undangan mengadakan acara ramah tamah di aula serbaguna KOSAYU. Acara berlangsung dengan santai dan meriah.

Inilah empat orang yang mengucapkan kaul perdananya :

Fr. Petrus Diaz CDD dari keuskupan Larantuka
Fr. Andreas Setiadi CDD dari keuskupan Agung Pontianak
Br. Romansa CDD dari Keuskupan Sanggau
Fr.Alexander Ignatius Sujasan dari Keuskupan Agung Pontianak

Selamat atas semuanya dan selamat berjuang untuk tahap berikutnya.

Salam dan doa
Ignas Huang CDD

IN MEMORIAM PATER JOSEPH MA CDD

In Memoriam


Pater Yoseph S. Ma CDD

Lahir : di Xuanhua, Hebei, 20 september 1929
Asal : Xuanhua, Hebei, China
Masuk seminari : 1941
Kaul Perdana : 8 Januari 1951
Kaul Kekal : 8 Juli 1956
Tahbisan : 1 Agustus 1956
Studi : Filsafat dan Teologi di Seminari Regional Aberdeen, Hongkong
Studi Lanjut : Master Sejarah dari Amerika Serikat
Tugas-tugas : Mengajar di Hengyee School, Taiwan
Dekan Fakultas Sejarah Universitas FuRen, Taiwan
Kepala Sekolah Hengyee High school, Taiwan
Pastor Paroki di Chang-an, Taipei ( hampir 18 tahun )
Tugas terakhir : Pastor Paroki di Chang-an, Taipei

Meninggal : 26 Agustus 2009


Kesan sejenak

November 2007-Mei 2008, saya mendapat kesempatan untuk tinggal di komunitas internasioanl CDD di Taiwan. Pada saat itu, saya bertemu dan sempat berbicara dengan Pater Ma kira-kira empat atau lima kali. Beliau adalah figure yang tenang tetapi sangat bersemangat. Meskipun tampak sudah berusia lanjut, tetapi beliau amat cekatan dan lincah dalam menjalankan tugas. Saya mendapat kesan bahwa Pater adalah pribadi yang senang humor dan selalu tersenyum.

Pater Ma pernah tinggal di Malang, Indonesia selama kurang lebih enam bulan dan bertugas di unit pendidikan.

Pater Ma yang terkasih, Selamat Jalan dan selamat berbahagia di Surga. Semoga arwah dan segala amal kebaikan yang telah disemai oleh Pater Yosep Ma menjadi teladan dan semangat bagi kita semua. Amin (Ignas Huang CDD)


Teriring salam dan doa kami

Para Imam, bruder dan Frater CDD
Propinsi Indonesia

World Day of Prayer for The Sanctification of Priests


Hari ini, tgl 18 Juni 2009, Paus Benediktus XVI membuka tahun doa bagi para imam dengan ibadat sore bersama. Tahun ini adalah tahun yang dikhususkan bagi para imam. Gereja diajak untuk berdoa dan mendoakan para imam. Dunia terus bergerak dengan perkembangannya yang luar biasa. Misi gereja tergantung dengan amat sangat pada relasi pribadi setiap orang dengan Yesus Kristus dan untuk itu dibutuhkan santapan atau masukan yang berkualitas yakni DOA, demikian bunyi salah satu bagian dari dokumen World Day of Prayer for The Sanctification of Priests yang dikeluarkan oleh Congregatio Pro Clerics. Dokumen itu diterbitkan pada hari raya hati kudus Yesus 30 Mei 2008. Bahkan Paus Benediktus dalam Deus Caritas menegaskan perlunya doa ditengah gelombang dan pengaruh aktivisme dan sekularisme yang menghantam.
Kongregasi Murid-murid Tuhan adalah kongregasi untuk para imam dan bruder. Maka sejalan dengan misi gereja, kongregasi Murid-murid Tuhan yang juga memiliki spiritualitas ketaatan kepada tahta suci dan selalu berdoa bagi panggilan hidup membiara turut berpartisipasi dalam kegiatan doa untuk para imam ini.
Komunitas karya dan Skolastik CDD Blimbing, provinsialat dan novisiat CDD Batu dan komunitas karya CDD rumah retret Sawiran mengadakan ibadat sore bersama dan dilanjutkan dengan berkat Sakramen Mahakudus yang ditahtakan. Kegiatan komunitas untuk menyambut tahun doa bagi para imam ini diadakan di komunitas Batu. Acara berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh lima imam CDD, dua bruder dan delapan frater serta satu calon novis CDD. Pada saat hening, para imam mengucapkan doa penyerahan kepada Tuhan dan diikuti oleh doa dari umat untuk para imam. Acara berlangsung dengan baik dan mengesankan.
Sesudah devosi sakramen Mahakudus selesai diadakan, Pater Willy Malim Batuah CDD didaulat untuk memberikan sharing tentang hidup imamat. Dengan sharing ini, diharapkan para frater semakin bertekun dalam meniti hidup panggilannnya. Dalam sharingnya, Pater Willy menekankan bahwa orang janganlah takut kalau dipanggil Tuhan apalagi kalau jalannya aneh dan berliku-liku. Kita harus seperti yang dikatakan dalam surat Timotius “…aku tahu yang aku percayai…”. Pater Willy menekankan bahwa Tuhan punya seribu satu cara untuk memamnggil manusia. Pater Willi sendiri adalah produk imam yang setia menanti dan merawat panggilannya sampai 29 tahun. Setelah sekian lama, beliau baru ditahbiskan. Maka jangan takut dan percayalah kepada Tuhan.
Acara diakhiri dengan santap malam bersama dan dalam acara ini, semua tampak gembira dan bahagia. Semoga dengan kegiatan ini, hidup panggilan kita semua semakin bertumbuh dan semoga semakin banyak pemuda yang mau mengikuti jalan panggilan khusus ini.

Salam dan doa

Ignas Huang CDD

14 June 2009

MISA TRIDUUM DAN PROSESI SAKRAMEN MAHAKUDUS DEVOSI KHUSUS KONGREGASI MURID-MURID TUHAN


Kongregasi Murid-murid Tuhan didirikan oleh Celso Costantini di China pada tahun 1931. Ketika mendirikan kongregasi ini, Celso menginginkan dan menetapkan bahwa Ekaristi atau sakramen Mahakudus menjadi spiritualitas dari kongregasi Murid-murid Tuhan Oleh sebab itu, kongregasi Murid-murid Tuhan mengadakan berbagai usaha untuk semakin menghayati dan memperkenalkan devosi kepada Sakramen Mahakudus. Sejalan dengan itu, Komunitas biara CDD Malang, Batu dan Sawiran dalam kerjasama dengan Yayasan Kolese St Yusup yang bernaung di bawah Kongregasi Murid-Murid Tuhan menyelenggarakan triduum dan prosesi Sakramen Mahakudus. Triduum dimulai sejak tgl 9 dan memuncak pada 11 Juni 2009. Hari pertama Triduum di isi dengan misa kudus dan pentahtaan sakramen Mahakudus di Kapel KOSAYU Malang. Tema yang diusung adalah “Tuhan mengunjungi UmatNya”. Perayaan misa di pimpin oleh Pater Yuki CDD dan siraman rohani atau khotbah diberikan oleh Pater Marianus CDD.
Dalam khotbahnya, Pater Marianus CDD yang bertugas di Asrama Putra KOSAYU menekankan pentingnya devosi kepada Sakramen Mahakudus. Beliau mengatakan bahwa Tuhan senantiasa mengunjungi kita dalam setiap dinamika kehidupan kita. Berdevosi kepada Sakramen Mahakudus tidak boleh dikalahkan oleh keinginan diri yang justeru akan berakibat fatal.
Dalam hal ini, Pater Marianus CDD memberi contoh ketika ia hampir mengalami kecelakaan, tetapi beliau bersyukur bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, beliau baru saja mengadakan sembah sujud sakramen bersama dengan anak-anak asrama. Beliau percaya bahwa Tuhan mengunjunginya pada saat itu
Triduum hari kedua juga diisi dengan perayaan ekaristi dan pentahtaan sakramen Mahakudus. Triduum hari kedua di pimpin oleh Pater Agus CDD dan khotbah disampaikan oleh Pater Lodewiyk CDD. Dalam khotbahnya, Pater Lodewiyk menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya mengunjungi umatNya tetapi IA menyertai dan hadir bersama dengan UmatNya. Lebih lanjut dikatakan oleh Pater Lodewiyk bahwa Tuhan senantiasa akan menyertai umatNya sebagaimana Abraham yang percaya kepada warta keselamatan dari Tuhan meskipun semuanya tampak tidak jelas. Iman semacam inilah yang dituntut dari kita.
Puncak devosi dan berkat sakramen Mahakudus diadakan pada 11 Juni 2009 pukul 16.30. Pada hari puncak ini, cuaca mendung dan hujan turun silih berganti dengan frekuensi yang berbeda-beda. Kadang lebat kadang tidak . Panitia dibuat sibuk dan cemas. Namun kegiatan prosesi tetap dapat berjalan dengan baik tatkala pada saat misa berlangsung, cuaca sedikit demi sedikit mulai menampakkan kecerahannya. Puji Tuhan ! akhirnya semua dapat berjalan dengan baik. Di hari ketiga ini, misa dipimpin oleh Pater Lodewiyk CDD, provinsial Kongregasi Murid-murid Tuhan propinsi Indonesia dan didampingi oleh Pater Agus CDD, Pater Marianus CDD, Pater Marianus CDD dan Pater Sukamto CDD. Misa berlangsung dengan meriah dan umat yang hadir cukup banyak meskipun berkurang bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak faktor yang turut mempengaruhi. Salah satunya adalah cuaca mendung yang menggantung di kota Malang pada hari itu.
Pada misa puncak ini, khotbah disampaikan oleh Pater Agus CDD. Dengan tegas Pater Agus mengatakan bahwa Devosi Sakramen Mahakudus tidak boleh hanya berhenti pada saat ada devosi. Tetapi umat harus sadar dan memahami bahwa Tuhan telah hadir setiap hari dalam hidup kita terutama pada saat kita menghadiri Misa Kudus setiap hari. Lebih lanjut, Pater Agus yang juga dosen di STFT Widya Sasana ini mengatakan bahwa manusia cenderung tidak kuat untuk bertahan dalam niat yang baik. Oleh sebab itu, manusia harus selalu berlatih dan menempa diri agar mampu bertahan dalam niat yang baik. Melalui devosi sakramen ini, umat diharapkan semakin mencintai dan mengandalkan Allah dalam hidupnya. Kita tidak perlu sibuk dan repot menjelaskan apa dan bagaimana roti menjadi tubuh dan anggur menjadi darah. Namun lebih penting dari semua itu, kita harus memiliki iman kepercayaan akan Allah yang hadir dalam rupa roti dan anggur, demikian penegasan yang disampaikan oleh Prefek Studen CDD ini
Setelah misa selesai, prosesi sakramen Mahakudus dipimpin oleh Pater Yuki CDD. Sakramen Mahakudus ditahtakan pada sebuah tandu yang telah dipersiapkan dengan bagus dan indah. Umat berarak dengan penuh kegembiraan dan sepanjang perarakan, umat bernyanyi dan berdoa. Pada setiap stasi, sakramen berhenti dan umat berlutut untuk mendapat berkat. Akhirnya sakramen tiba ditempat yang telah dipersiapkan dan disanalah Sakramen ditahtakan. Umat berdoa dan bernyanyi serta mendapat berkat berlimpah dari sakramen Mahakudus.
Devosi dan prosesi berjalan dengan cukup lancar dan menggembirakan. Umat dan panitia bekerja dengan sekuat tenaga untuk menyukseskannya. Para frater skolastik, novisiat dan postulat CDD tampak hadir bergabung dengan umat. Akhirnya misa dan prosesi sakramen Mahakudus selesai pada pukul 19.00 dan Pater Provinsial CDD menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan menyukseskan perayaan agung ini. semoga ditahun depan, perayaan ini semakin dikenal dan dengan demikian, semakin banyak orang yang mendapat berkat dari Sakramen Mahakudus.

Salam dan doa

Ignas Huang CDD

11 June 2009

“BUAH YANG JATUH TAKKAN JAUH DARI POHONNYA”
Sebuah refleksi tentang Peranan keluarga
bagi pertumbuhan kepribadian Celso Cardinal Costantini
Delegatus Pertama Tahta Apostolik untuk Negri China dan Pendiri CDD



Oleh : Fr.Alexander Ignatius Sujasan CDD

Keluarga yang harmonis
Beberapa psikolog mengatakan bahwa latar belakang keluarga menentukan watak dan kepribadian dari seorang anak ! Beberapa ahli malah merumuskannya dengan menunjuk pada pengaruh langsung atau gen dan pengaruh tak langsung atau kebiasaan-kebiasaan yang diadaptasi. Terlepas dari benar tidaknya hipotesa ini, layak untuk diperhatikan bahwa banyak keberhasilan yang diraih oleh seseorang yang disebabkan oleh pengaruh dari keluarga. Demikian pula sebaliknya, banyak kegagalan yang menghampiri seseorang karena pengaruh keluarga. Dengan kata lain, keluarga mau tidak mau pasti memberikan sedikit warna bagi hidup dan perkembangan seseorang.
Ketika kita membaca dan mempelajari sejarah kehidupan Celso Costantini, hati kita tidaklah berkobar-kobar atau penuh keingintahuan (paling tidak bagi penulis sendiri). Hal ini agak berbeda dengan kisah kehidupan pendiri kongregasi yang lain. Ada banyak kisah heroic yang ditampilkan dalam cerita kehidupan para pendiri kongregasi lain, meskipun tidak semuanya bernuansa demikian. Namun paling tidak ada kesan demikian. Apakah hal ini disebabkan oleh karena belum adanya riwayat hidup Celso dalam bahasa Indonesia ? Sehingga kita tidak bisa membaca secara kuantitatif maupun kualitatif segi-segi kehidupan Celso Costantini ? Oleh sebab itu, ketika mempelajari sejarah hidup Celso Costantini, penulis harus membolak-balik dan “mengutip” disana sini untuk mendapatkan “secuil” riwayat hidupnya. Tambahan lagi, hampir semua sumber yang ada masih dalam bahasa Italia dan sebagian dalam bahasa mandarin. Namun justeru dengan situasi ini, penulis menemukan banyak hal yang bermanfaat tentang Celso Costantini. Dan salah satu yang sangat menarik perhatian penulis adalah latar belakang keluarga Celso Costantini.
Celso Costantini lahir dan bertumbuh dalam sebuah keluarga katolik yang saleh. Ibunya adalah tipe wanita sederhana dari kampung yang “hanya” tahu mengurus keluarga. Tetapi dengan kesederhanaannya, Ibunya berhasil membawa Celso dan kakaknya untuk menjadi pelayan Tuhan ! Melalui Ibunya, Celso belajar untuk memiliki sikap iman yang benar. Celso dilatih untuk memiliki sikap saleh, beriman dan percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Setiap malam Celso bersama dengan saudara-saudaranya diajak untuk bersimbuh dihadapan Tuhan dan Bunda Maria. Mereka berdoa dan sekaligus berdoa Rosario. Inilah jejak-jejak kehidupan rohani yang baik yang ditaburkan oleh ibunda Celso. Dalam hidup sehari-hari, ibu Celso masih mengajarkan untuk menjaga kebersihan dan menghargai kehidupan para religius, maka Celso menjadi pribadi yang tahu menghargai iman dan kebersihan diri. Sementara itu, ayahnya adalah seorang arsitek bangunan yang menekankan kedisiplinan dan ketekunan dalam bekerja. Sejak kecil, Celso dilatih untuk tidak malas dalam arti harus pandai memanfaatkan waktu kosong, tekun dalam arti setia dengan tugas yang diberikan dan tidak menggerutu, sikap hormat dalam arti tahu menghargai orang yang lebih tua, sikap pasrah dalam arti tidak mencari-cari yang tidak ada dan menerima keadaan yang ada lalu berusaha untuk menghidupinya. Hal ini tercermin ketika Celso kecil tidak dapat melanjutkan sekolah, maka ia hanya belajar dengan orang tuanya dan pasrah serta belajar dengan baik sekali.
Secara ringkas kita bisa mengatakan bahwa masa-masa kecil Celso mengajarkan kepadanya banyak hal yang bermanfaat untuk pertumbuhan kepribadiaannya. Semua terutama terjadi karena peranan dan campur tangan dari keluarganya. Kelak Celso menjadi seorang imam yang memiliki iman yang mendalam, pribadi yang matang, memiliki keteguhan hati, visioner, manager yang handal dan diatas semua itu, ia sangat menekankan pentingnya untuk mengisi waktu yang kosong dengan hal-hal yang bermanfaat ! Maka ia terkenal dengan semboyan Jadilah Imam yang saleh dan terpelajar !
Benih-benih panggilan
Sebagaimana telah diuraikan di atas, Celso kecil dipengaruhi dan bertumbuh dalam sebuah keluarga yang harmonis dan terutama memiliki keseimbangan dalam hal rohani dan jasmani. Maka semua itu menjadi bekal bagi munculnya benih-benih panggilan. Benih-benih panggilan yang muncul dalam hidup Celso bukanlah suatu perjalanan panggilan yang mulus dan lancar-lancar saja. Meskipun sejak kecil, Celso Costantini sudah dilatih untuk selalu berdoa dan percaya kepada Tuhan, namun semua itu tidak serta merta membuatnya ingin menjadi imam !. Celso kecil juga akrab dan sering membantu dan menemani seorang Bruder Fransiskan untuk mencari sedekah, namun tak pernah terbersit dalam pikirannya untuk menjadi seorang biarawan ! Maka ketika Bruder yang sering ditemani oleh Celso itu bertanya apakah ia ingin menjadi imam, dengan cepat Celso kecil menjawab TIDAK !
Benih-benih panggilan baru tumbuh dan bersemi dalam hidup Celso ketika ia bertemu dan melihat teladan hidup dari salah seorang pamannya ( saudara ayahnya ) yang menjadi seorang pastor. Celso melihat dan menemukan keteladanan yang baik dan menakjubkan dari sang paman. Maka mulailah tumbuh benih-benih panggilan dalam dirinya. Semua ini bisa terjadi karena dari keluarganya sendiri, Celso memang telah mendapat bekal yang cukup dalam hidup rohani. Ibunya selalu mengajarkan untuk menghormati para imam yang adalah pengejawantahan pribadi Kristus sendiri. Meskipun demikian, ketika ia mengutarakan maksudnya untuk menjadi seorang imam, ibunya malah mengatakan bahwa ia tidak cocok untuk menjadi seorang imam. Ibunya mengatakan bahwa kakak Celso lebih cocok untuk menjadi seorang imam. Apakah ibunya tidak mendukung Celso untuk menjadi seorang imam ? ataukah semua itu hanya sebuah tantangan bagi Celso ?
Ketika Celso mengutarakan maksudnya untuk menjadi imam kepada ayahnya maka jawaban dari sang ayah lebih simpatik. Ayah Celso mengatakan bahwa menjadi imam adalah sebuah keputusan besar maka perlu dipikirkan dan direnungkan dengan sungguh-sungguh. Celso Costantini yang sudah mantap menjawab bahwa ia sudah memikirkannya. Maka ayahnya menyarakankan Celso untuk mengadakan bimbingan rohani dengan pamannya yang adalah seorang imam. Untuk ini, Celso harus menemui pamannya yang berada disebuah gereja yang jauhnya 15 km dari rumah Celso. Setiap sekali dalam seminggu, Celso harus berangkat kesana. Dan disanalah ia mendapat masukan dan bimbingan serta cerita-cerita heroic tentang orang-orang kudus terutama Santo Don Bosco, pencinta kaum muda !
Tahun-tahun penuh perjuangan
Keputusan sudah dibuat ! maka selanjutnya adalah tahun-tahun perjuangan untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang imam. Celso Costantini melanjutkan hidup panggilannya dan belajar ke kota Roma yang adalah pusat imam katolik. Celso selalu yakin bahwa dengan belajar di Roma dia akan memperoleh banyak hal yang bermanfaat untuk panggilannya. Terutama Celso sangat tertarik dengan seni bangunan yang antic di kota Roma. Celso menekankan bahwa keberangkatannya ke Roma bukan untuk mencari jabatan tinggi sebagaimana lazim terjadi pada saat itu. Dengan susah payah, Celso meyakinkan orangtuanya agar ia dapat berangkat ke kota Roma untuk belajar filsafat dan teologi. Pada akhirnya, orang tuanya setuju dan berangkatlah Celso dengan persiapan dana seadanya. Dalam pikirin Celso, ia akan bekerja sambil kuliah. Ia berpikir untuk menjadi penjaga asrama di kota Roma sambil kuliah.
Antara kenyataan dan rencana kerap kali tidak sejalan ! demikianlah yang terjadi dengan Celso Costantini. Sesampainya di kota Roma, ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan sampingan sambil kuliah. Oleh sebab itu, dana yang tersedia semakin menipis dan ia terpaksa “mengemis” ke biara-biara untuk dapat tinggal dengan harga sewa yang lebih murah. Celso menceritakan bagaimana ia ditolak oleh imam dan bruder dari berbagai biara yang ia datangi. Sampai akhirnya ia kelelahan di tepi jalan dan ia menangis. Celso meratapi nasibnya yang tragis dan ditolak oleh biara-biara. Ia berkata “malam ini begitu banyak kamar kosong di biara-biara tetapi aku harus tidur di tepi jalan”. Dalam refleksinya kemudian, Celso mengatakan bahwa hanya orang miskin yang dapat menyelami kemiskinan dan kehidupan orang miskin itu sendiri !
Akhirnya Celso bertemu dengan seorang pastor tua yang mau mendengarkan kisah perjalanan Celso dalam mencari tempat tinggal ! Pastor tua itu prihatin dan tersentuh dengan kisah perjalanan Celso, maka ia menunjukkan sebuah biara dan sekaligus memberikan rekomendasi agar Celso dapat diterima di biara itu. Sesampainya di biara itu, Celso melihat sebuah patung Bunda Maria maka Celso berdoa disitu dan ia merasa diteguhkan kembali. Tidak berapa lama, Celso bertemu dengan superior biara tersebut danditerima dengan baik. Celso dapat menyewa kamar di biara itu dengan harga yang cukup murah. Dan untuk itu Celso sangat bersyukur kepada Tuhan. Pekerjaan sampingan tetap belum diperoleh Celso sampai akhirnya orangtuanya masih harus mengirim dana kepadanya untuk studi. Oleh sebab itu, Celso mengatakan pada dirinya bahwa ia harus irit dan menghargai dengan sungguh-sungguh pemberian dari orangtuanya.
Tahun 1936, ketika Celso menjadi sekretaris Propaganda Fide, ia diundang untuk merayakan penampakan Bunda Maria di gereja dimana dulu ia pernah ditolak. Celso bergumam dalam hati, 38 tahun yang lalu ia ditolak oleh pastor di gereja ini untuk tinggal dan sekarang ia dielu-elukan dengan meriah sebagai tamu kehormatan.
Untuk kemuliaan Tuhan
Seluruh perjuangan Celso Costantini untuk menjadi seorang imam adalah perjuangan untuk kemuliaan Tuhan. Dengan pendidikan dan latar belakang keluarga yang harmonis dan terutama seimbang dalam hal rohani dan jasmani, Celso bertumbuh dan menjadi seorang pelayan Tuhan yang hebat dan rendah hati. Semua ini dilakukan demi dan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Pada masa tuanya, Celso menuliskan bahwa apa yang telah dilakukannya belumlah maksimal dan tidak ada yang istimewa dan berharga untuk dikenang dan dicatat. Celso merasakan bahwa masih banyak hal yang belum ia kerjakan untuk kemuliaan Tuhan. Untuk itu ia mohon agar Tuhan mengampuni kekurangannya ini. Ada banyak hal yang bisa diperbaiki tetapi tidak dilakukan olehnya. Celso Costantini sungguh-sungguh adalah seorang imam yang saleh dan terpelajar sekaligus rendah hati !
Buah yang jatuh takkan jauh dari pohonnya
Akhirnya haruslah dikatakan bahwa apa yang telah dijalani dan diperkenalkan oleh Celso Costantini kepada kita semua adalah sebuah tanda hidup dari perjuangan dan pergulatan yang hebat dari seorang pribadi yang dididik dalam sebuah keluarga yang handal ! Memang benar, buah tak akan jauh jatuhnya dari pohonnya. Celso Costantini mewarisi kesalehan dari ibunya dan kedisiplinan dari ayahnya. Ia memadukan keduanya dan menjadikannya sebagai modal untuk melayani gereja. Dengan demikian, Celso Costantini menunjukkan kepada kita pentingnya peranan orangtua dan keluarga dalam memetakan kepribadian yang matang dan dewasa dalam hidup setiap orang.
Refleksi bagi hidup panggilan kita
Refleksi sederhana yang dibuat dalam rangka pelajaran sejarah kongregasi Murid-murid Tuhan ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Apa yang telah dan dapat kita kembangkan atau teladani dari kepribadian bapa pendiri kita Celso Cardinal Costantini ? Penulis menggariskan beberapa poin penting yakni :
a. Hidup beriman / hidup rohani yang mendalam : meditasi, hidup doa, refleksi, pasrah dan percaya pada penyelenggaraan Tuhan
b. Kedisiplinan dalam hidup : Teguh, berani, tidak gampang menyerah
c. Manegemen hidup : tahu mengisi waktu kosong, tidak bermalas-malasan, rencana kerja yang jelas, evaluasi
d. Visioner : penuh optimisme dalam memandang masa lalu, sekarang dan masa depan
e. Kerendahan hati : membangun komunitas yang sehat dan tidak mencari nama untuk diri sendiri
Bagaimanakah hidup kita sebagai Costantinian ? apakah kita sudah menerapkan kelima poin penting itu dalam seluruh hidup dan karya kita ? Baik Imam, Frater maupun Bruder CDD yang belum dan sudah berkaul kekal kiranya wajib meneladan sepak terjang Bapa Pendiri kita Celso Cardinal Costantini.

Jadilah Imam yang saleh dan terpelajar !


Dalam keheningan biara Fatima CDD

Awal Januari 2009
Salam dan doa

Fr. Alexander Ignatius Sujasan Huang CDD

28 May 2009

BERITA PROVINSI CDD INDONESIA

• Celso Costantini pada Hari Raya Paska tahun 1939 mengatakan: “Para putraku terkasih, hari ini adalah hari pesta kongregasi kalian. Saya hadir bersama kalian secara rohani. Di benak saya, saya dapat melihat kembali seminari kalian yang terletak di sebuah lembah yang indah, yang dinamai Emaus…..Saya jadi teringat akan para murid Emaus. Saat itu mereka berjalan bersama Kristus, tetapi mereka tidak mengenal Nya sama sekali, namun hati mereka berkobar kobar oleh semangat cinta kasih. Pada akhirnya barulah mereka dapat mengenali Nya ketika dalam jamuan makan Ia memecah mecahkan roti (Luk 24,35). Demikian juga hendaknya kalian ketika berjalan di antara orang orang yang belum mengenal Kristus, hendaknya hati kalian terbakar oleh rasa cinta kasih untuk membuat mereka mengenal Nya, karena kalian telah mengenal Nya setiap hari ketika kalian memecah mecahkan roti. (IVAD II)
• Pesta Kongregasi kita jatuh pada hari ketiga Hari Raya Paska. Kita bersyukur bahwa Tuhan senantiasa memberikan berkat dan karunia kasihNya kepada kita. Rasa kegembiraan ini kita wujudkan dengan perayaan syukur di komunitas kita masing masing. Komunitas Tegal Jaya mengadakan Misa Syukur, berdoa untuk arwah semua orang beriman dengan memasang lilin lilin kecil dan dilanjutkan dengan acara umat makan bersama. Komunitas Sawiran mengadakan Misa Syukur dan rekoleks., Komunitas Batu mengadakan Triduum (rosario, membaca IVAD dan ziarah/Misa Syukur di Gua Maria Pohsarang, lihat: cddprov.blogspot.com) dan Misa Syukur. Komunitas Pontianak mengadakan Adorasi Sakramen Mahakudus dan Misa Syukur, komunitas blimbing mengadakan Misa Syukur, komunitas Jakarta mengadakan Misa Syukur
• Pastor Willy Malim Batuah diopname di RS Panti Nirmala beberapa waktu yang lalu. Puji Tuhan, kesehatan beliau sudah pulih dan sekarang telah menjalankan tugas sebagaimana biasanya. Dalam waktu dekat ini beliau akan berangkat ke luar negeri, Beliau diundang ke negeri Kincir Angin oleh lembaga Pemerintah “PUM” yang bergerak di bidang pertanian dan di kelola oleh swasta yang berskala internasional. Kita doakan agar perjalanan Pastor Willy berjalan dengan baik dan selalu dalam karunia kasihNya.
• Bruder Phokas Andreromes seniman lulusan Institut Seni Indonesia Denpasar. Ada beberapa artikel yang sudah di muat di koran lokal Denpasar dan Pontianak. Saat ini mengajar di SMA Santu Petrus Pontianak. Ia mendapat tugas belajar dari Kongregasi dan kini mempersiapkan diri untuk memasuki program S2 di Yogjakarta. Marilah kita berdoa agar persiapannya dan tugas belajarnya berjalan dengan baik.
• Pastor Yuki terpilih sebagai Ketua MPK Keuskupan Malang, dan karena tugas dan tanggung jawab ini sangat besar dan mulia, maka Provinsial CDD menunda tugas belajarnya ke program S3, dengan tujuan agar ia tahun pertama ini boleh lebih berkonsentrasi untuk melaksanakan tugas di MPK Keuskupan Malang. Confrater, mari kita memberikan dukungan dengan doa agar beliau dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
• Pastor Hilarius Sutiono saat ini bukan saja melayani umat berbahasa mandarin di Jkt, tetapi dalam kesibukkan beliau juga menyempatkan diri melayani umat berbahasa Mandarin di Palembang dll. Sejak bulan Januari tahun ini, Pastor Hilarius mengasuh kolom “Sheng Ai” di koran bahasa Mandarin “Guojirebao”. Kolom ini diisi dengan: memperkenalkan iman katolik, kegiatan kegiatan umat berbahasa Mandarin Indonesia, informasi jadwal misa berbahasa Mandarin dsbnya. Mohon confrater yang bisa berbahasa Mandarin dapat memberikan dukungan dengan menyumbangkan artikelnya. Confrater, mari kita mendukung dengan doa agar beliau sehat walafiat dan tetap bersemangat menjalankan tugas pelayanan kasih ini.
• Awal tahun 2008, Pastor Laurentius Prasetyo CDD mendapat tugas belajar bahasa mandarin di universitas katolik Fujen Taiwan. Pastor prast, demikian ia biasa dipanggil direncanakan akan berada di Taiwan selama kurang lebih dua tahun. Saat ini Pastor Prast sudah berada di Taiwan lebih kurang satu tahun dan mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan dalam hal membaca, menulis dan berkomunikasi dalam bahasa mandarin. Kita berharap Pastor Prast semakin bersemangat dalam mempelajari bahasa mandarin dan pada akhirnya kembali ke Indonesia untuk berkarya di ladang Tuhan.
.• Saat ini jumlah postulan ada 5 orang, Novis ada 4 orang dan student ada 5 orang. Pembinaan terhadap generasi penerus murid murid Tuhan perlu ditangani secara serius. Para confrater, mari kita mendukung dengan doa sebagai tanda kesatuan kita dengan Pastor Magister dan Pastor Prefek studen dalam pendampingan terhadap para novis dan para frater. dan juga tak henti hentinya mendoakan doa mohon panggilan untuk kongregasi kita

25 May 2009

HASIL REFLEKSI PARA FRATER DAN BRUDER TENTANG SEJARAH KONGREGASI

Sudut ini adalah sudut refleksi novisiat yang memuat berbagai hasil refleksi yang dikerjakan oleh para novis CDD. Refleksi yang dibuat oleh para novis ini dapat berupa hasil refleksi dari pelajaran yang diperoleh maupun suatu studi mandiri yang dilakukan secara bebas. oleh sebab itu, hasil refleksi ini tidak mereprensentasikan spiritualitas CDD secara resmi. Dengan kata lain, hasil refleksi yang dituliskan disini melulu adalah suatu refleksi yang bersifat pribadi dan mandiri. silahkan Anda memberi komentar atau masukan bagi para penulis-penulis ini. Terima kasih
Untuk edisi perdana ini, kami tampilkan hasil refleksi yang dibuat oleh para frater dan Bruder CDD dalam pelajaran Sejarah Bapa Pendiri dan Kongregasi CDD



Masa lalu , Sekarang , dan Akan datang
Br.Romansa CDD
Jalan masih panjang , harapan baru dilangkahkan tapi bagi Bapa Celso Costantini , pendiri Congregasi Discipulorum Domini , semua dapat dilalui dengan kesabaran , keteguhan , dan kerja keras serta terutama semua disandarkan pada doa dan penyelenggaraan Ilahi . Penolakan yang pernah dialami adalah awal untuk lebih bersemangat dalam berusaha , lebih tekun dan lebih rajin untuk menemukan lebih banyak makna hidup , dicuekin tidak membuat rendah harga diri , tapi justru semakin terpacu untuk menjadi lebih baik , dibohongi menambah keyakinan akan kemampuan untuk memaknai diri dalam hidup untuk mencapai kesuksesan , kegagalan harus dapat menjadi pemicu dan pengalaman di dalam hidup dalam keberhasilan yang tertunda , semua adalah cobaan dan rintangan yang harus dijalani , dihadapi , dan dilalui dengan kerja keras , tekun dalam berusaha dan tidak lupa berserah di dalam Doa ....seperti apa yang ditulis oleh Bapa Celso Costantini sebagai berikut “ ….kalau mau menerima tanggung jawab yang besar , maka terlebih dahulu kita harus dengan sabar menerima segala kesulitan….”
Berkat cinta kasih akan Allah , Bapa pendiri berjalan teguh , lurus menatap masa depan . lalu apa peran saya sebagai anak – anak Costantini ?
Jalan yang harus saya jalani dan lalui tidak seramah seperti kebanyakan anak – anak masa kini . Anak-anak sekarang serba dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang serba wah … complit , dengan hanya satu telunjuk jari semua dunia terjelajahi dari dalam dunia maya , baik hal yang biasa hingga hal yang luar biasa dapat ditemukan , demikian juga dengan kebutuhan sehari – hari semua serba instan , tinggal buka langsung santap , atau tinggal telunjuk jari maka akan datang orang – orang yang tersenyum dengan ramah dan akan melayani dengan penuh keramahan , atau lebih praktis lagi tinggal telpon , pesan , tunggu , datang , santap , itulah perkembangan dunia jaman sekarang yang serba cepat saji . Berbeda dengan puluhan tahun yang lalu , perubahan dan arus modernisasi begitu cepat dan sangat pesat pada saat ini .
Apakah arus Modernisasi jaman yang begitu pesat dan cepat ini juga melanda seluruh aspek hidup anggota Congregasi Discipulorum Domini ? Kini setelah puluhan tahun berdirinya Congregasi Discipulorum Domini , apa yang menjadi kebanggaan bagi diri kita sebagai bagian dari Congregasi Discipulorum Domini ? Ya , dua pertanyaan yang sulit dan berat untuk dijabarkan , diterangkan serta dijawab di dalam kondisi jaman sekarang ini .
Hubungan dengan Bapa pendiri mungkin tidak ada yang istimewa , selain hubungan antara pendiri congregasi dengan saya sebagai calon bagian dari anggota congregasi penerus semangat dan cita – cita Bapa pendiri . Namun kisah hidup , pengalaman , semangat , keuletan , ketekunan , serta berpendirian teguh yang disandarkan pada doa dan penyelenggaraan Ilahi yang telah menjadikan Bapa pendiri sebagai contoh teladan hidup bagi saya untuk diteladani dalam kehidupan dan prilaku hidup sehari – hari .
Kisah hidup beliau yang ditulis di dalam buku “ FOGLIE SECCHE ” seakan – akan mau menyatakan bahwa cita – cita harus diraih dengan perjuangan , tidak dengan cara instan . Demi cita – cita dibutuhkan pengorbanan , ketekunan , kesabaran dan masih banyak faktor lain lagi yang harus terus ditumbuhkan ,,, dan yang paling utama adalah selalu berserah di dalam doa , sebagai ungkapan syukur atas apa yang boleh dialami dalam perjuangan untuk meraih asa baik dalam hal suka maupun duka .
Bagaikan tetes demi tetes air dalam lautan yang luas atau bagaikan butir demi butir pasir yang halus di padang pasir yang luas , justeru karena karena kumpulan tetes demi tetes air ini yang tak terbilang banyaknya menjadikan samudera raya , dan kumpulan butir demi butir pasir halus yang tak terhitung jumlahnya menjadi gurun atau padang pasir yang maha luas , hal semacam inilah yang dilihat dan dapat saya rasakan apa yang diinginkan oleh Bapa Pendiri kepada para penerusnya …. Melakukan hal – hal besar yang dimulai dari hal – hal kecil dengan setulus hati , karena hal besar dapat terjadi dan berawal dari hal – hal yang sering kali kita anggap sepele . Bapa Celso menginginkan kita meninggalkan kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia , untuk bertemu dengan Tuhan , seperti yang ditulis oleh beliau “ … hendaknya janganlah kita membiarkan waktu kita berlalu dengan Cuma – Cuma , semua waktu hendaknya kita gunakan untuk Tuhan …”
Dalam beberapa hal , apa yang telah dipesankan oleh Bapa pendiri kepada penerusnya ,,, hendaknya kita hidup selalu rendah hati , jangan suka membicarakan keburukan dan kelemahan teman kepada orang lain , gunakan dan manfaatkan kemampuan serta keahlian untuk menolong serta membantu sesama yang membutuhkan , hendaknya janganlah kita berbicara mengenai kasih di depan orang miskin dengan kata – kata yang indah , sebaliknya tidak berbuat sesuatu yang konkret , untuk membantunya , justru ini menyalahkan hukum kasih , memang apa yang diinginkan oleh Bapa pendiri , bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan tetapi juga bukanlah hal sulit untuk dilakukan , setiap hari setelah bangun pagi lakukanlah tugas kesalahan ; ibadat pagi , meditasi , misa , dan waktu selanjutnya dapat digunakan untuk mengerjakan hal – hal yang lain , selain itu hendaklah malam sebelumnya merencanakan segala sesuatu yang akan dikerjakan pada hari berikutnya , dan setiap malam juga hendaknya mengadakan pemeriksaan bathin untuk melihat kembali apa yang telah dilaksanakan sepanjang hari , dengan demikian kita akan menemukan apa yang harus didahulukan dan apa yang tidak penting , apa yang belum selesai pada hari itu dapat diselesaikan pada hari berikutnya , akal budi , hati nurani ,,, serta kemauan akan memampukan kita untuk berbuat sesuai apa yang diinginkan oleh Bapa pendiri , seperti yang ditulis oleh beliau “ ,,, dengan hidup secara teratur , kita dapat membagi waktu dengan baik dan bisa menjadikan semangat dan kemampuan hidup kita lebih bertumbuh sehingga pada saat kita tua , kita dapat merasakan hidup kita terisi dengan baik . Sumber dari penyakit adalah malas ; karena malas dapat menimbulkan hal –hal yang dapat merugikan diri sendiri ,,, ”

02 May 2009


Para Novis CDD 2008 dan Postulat CDD 2008

Sudut ini adalah sudut refleksi novisiat yang memuat berbagai hasil refleksi yang dikerjakan oleh para novis CDD. Refleksi yang dibuat oleh para novis ini dapat berupa hasil refleksi dari pelajaran yang diperoleh maupun suatu studi mandiri yang dilakukan secara bebas. oleh sebab itu, hasil refleksi ini tidak mereprensentasikan spiritualitas CDD secara resmi. Dengan kata lain, hasil refleksi yang dituliskan disini melulu adalah suatu refleksi yang bersifat pribadi dan mandiri. silahkan Anda memberi komentar atau masukan bagi para penulis-penulis ini. Terima kasih
Untuk edisi perdana ini, kami tampilkan hasil refleksi yang dibuat oleh para frater dan Bruder CDD dalam pelajaran Sejarah Bapa Pendiri dan Kongregasi CDD

Fr. Petrus Suban Diaz, CDD

CELSO CARDINAL COSTANTINI
“Jadilah Imam yang Saleh dan Terpelajar”

Saya merasa sangat kagum dan tertarik dengan Bapa Pendiri setelah belajar dan mengetahui latar belakang hidupnya. Kendati beliau berasal dari keluarga yang sederhana, tapi Celso tetap tidak berkecil hati. Ia malahan menjadi lebih bersemangat untuk berjuang mencapai tujuan dan cita-cita yang diimpikannya. Segala kesulitan dihadapinya dengan sabar. Bahkan ketika mengalami kekurangan pun ia masih sempat menolong orang lain. Ia menyerahkan semuanya hanya kepada penyelenggaraan Tuhan. Sungguh sesuatu yang luar biasa dan mungkin tidak semua orang dapat berbuat seperti itu. Berkat ketekunan dan semangat yang luar biasanya, Celso berhasil menyelesaikan studinya di Roma. Iapun akhirnya ditahbiskan menjadi seorang imam. Berkat kepandaian yang dimilikinya, ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Akan tetapi semuanya itu tidak membuat ia menjadi bangga dan sombong. Justru ia semakin rendah hati dan tidak mau mengagung-agungkan dirinya sendiri.
Dibandingkan dengan Celso, mungkin saya sangat jauh berbeda dengan dia. Saya juga berasal dari keluarga yang sederhana, tetapi saya sering berkecil hati dan tidak mau menerima keadaan keluarga saya. Saya selalu merasa iri hati bila teman-teman yang hidupnya selalu berkecukupan. Orang tua mereka selalu memberikan dan menyanggupi apa yang mereka minta. Saya kadang-kadang mau marah kepada orang tua saya, tapi saya sadar akan kenadaan keluarga. Hal ini membuat saya menjadi minder dalam bergaul dengan teman-teman yang selalu memiliki barang-barang yang bagus. Walaupun demikian, saya tetap sayang kepada orang tua saya. Saya yakin mereka pasti menginginkan yang terbaik bagi saya. Mereka pasti berusaha membahagiakan saya.mungkin keinginannya itu belum dapat terpenuhi.
Dalam bidang pendidikan, orang-orang selalu mengatakan bahwa saya orang yang pandai dan pintar. Saya selalu mendapat prestasi yang baik setiap ujian semester. Hal ini membuat saya selalu disanjung oleh keluarga dan orang di lingkungan tempat tinggal saya. Akibat pujian ini, saya akhirnya merasa seperti orang yang hebat dan menganggap remeh semua orang. Bahkan saya juga mulai malas belajar dan memandang pendidikan dengan sebelah mata. Saya hanya belajar kalau hendak mengikuti ujian semester maupun ujian akhir. Karena itu prestasi saya ketika duduk di bangku SMA menurun dengan drastis. Seluruh keluarga saya mulai meremehkan saya dan membandingkan saya dengan adik saya. Katanya prestasi saya tidak apa-apanya dibanding prestasi gemilang adik saya. Saya menjadi marah dan berusaha menjadi lebih baik dari adik saya. Tapi semua itu saya lakukan bukan untuk menjadi lebih baik tapi supaya saya dapat dipuji oleh orang-orang dan keluarga saya. Hal itu membuat saya tidak lagi berpikir tentang cita-cita dan tujuan saya. Sehingga ketika saya sudah menyelesaikan pendidikan di SMA, saya tidak tidak tahu mau melanjutkan ke mana dan mau jadi apa. Saya akhirnya tidak dapat melanjutkan sekolah selama setahun. Saya merefleksikan kembali cita-cita saya yang dulu. Setelah direfleksikan selama setahun, saya pun menyampaikan kepada Ibu saya bahwa saya mau menjadi imam. Ternyata ia merestui keinginan saya ini. Saya pun langsung melamar di Kongregasi Murid-murid Tuhan. Syukurlah saya diterima untuk menjalani panggilan saya sampai saat ini.
Satu hal yang membuat saya merasa kagum dengan Celso adalah kepandaiannya dalam mengatur waktu dan tugas-tugasnya. Dalam hal ini, saya sama sekali berbeda jauh dengan dia. Saya belum mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kadang-kadang, saya membiarkan waktu berlalu tanpa ada sesuatu yang dikerjakan. Semuanya berlalu dengan hal-hal yang tidak berguna. Saya pun menjadi orang yang malas dan bekerja sesuka hati saya. Saya selalu berusaha dan memiliki rencana untuk merubah sifat itu, tapi kadang saya belum mampu menaklukkan kemauan yang ada di dalam diri saya. Akhirnya semua itu hanya tinggal rencana yang tidak pernah terlaksanakan.
Setelah mengenal kehidupan Bapa Pendiri, saya mulai bersemangat untuk menghilangkan segala sifat kemalasan yang ada dalam diri saya. Saya berangan-angan untuk mampu menjadi seperti Celso yang memiliki semangat dan kemauan keras, pandai mengatur semuanya, dan juga rendah hati. Saya sadar bahwa hal itu tidaklah mudah. Namun saya sangat yakin dengan bantuan Tuhan dan kemauan keras dari saya sendiri, pasti semua itu akan berhasil. Sekarang saya mulai mencoba berubah sedikit demi sedikit. Walaupun tertatih-tatih tapi saya yakin mampu berjalan maju.

“Terimalah segala kesulitan dengan sabar,
maka engkau akan menerima tanggung jawab yang besar”
Celso Costantini

24 April 2009

Sudut ini adalah sudut refleksi novisiat yang memuat berbagai hasil refleksi yang dikerjakan oleh para novis CDD. Refleksi yang dibuat oleh para novis ini dapat berupa hasil refleksi dari pelajaran yang diperoleh maupun suatu studi mandiri yang dilakukan secara bebas. oleh sebab itu, hasil refleksi ini tidak mereprensentasikan spiritualitas CDD secara resmi. Dengan kata lain, hasil refleksi yang dituliskan disini melulu adalah suatu refleksi yang bersifat pribadi dan mandiri. silahkan Anda memberi komentar atau masukan bagi para penulis-penulis ini. Terima kasih
Untuk edisi perdana ini, kami tampilkan hasil refleksi yang dibuat oleh para frater dan Bruder CDD dalam pelajaran Sejarah Bapa Pendiri dan Kongregasi CDD

Aku Hidup di Dalam Celso Costantini
Fr.Andreas Setiadi CDD

“Tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat menggantikan ketekunan dan keteguhan hati. Itulah kunci sukses” (Calvin Coolidge). Kata-kata ini telah dibuktikan oleh Celso Costantini sendiri. Jika saya membaca ataupun mendengar tentang Celso Costantini, salah satu hal yang sangat menarik dan menonjal dari sosok Celso Costantini bagi saya adalah ketekunan dan keteguhan hatinya. Semanganya untuk berjuang, telah membuahkan hasil yang luar biasa di dalam hidupnya. Saya melihat di dalam perjalanan hidupnya, bukannnya tanpa hambatan. Seperti halnya kehidupan normal setiap manusia, tentu tidak terbebas dari yang namanya “hambatan dan cobaan”. Namun, yang membedakan kehidupan Celso Costantini dengan orang lain adalah semangatnya, fighting spirit, yang dimilikinya, sehingga seluruh hambatan dan cobaan itu sungguh dapat menjadi “teman” dan juga sekaligus menjadi “guru” yang mengajarinya untuk menjadi dewasa di dalam hidup, mengajari bagaimana caranya untuk menjadi “pemenang” di dalam hidup.
Semuanya itu ditambah dengan imannnya yang sungguh besar kepada Tuhan, sehingga semangat juangnya itu menjadi semakin mengagumkan bagi saya. Di dalam kesulitannya, ia tidak hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Namun melalui doa, ia mencoba membuka diri bagi rahmat kemurahan Tuhan, dan dengan penuh iman menyerahkan seluruh kesulitannya kepada Tuhan. Dengan berdoa, ia merasa memperoleh kekuatan yang dapat meneguhkan dirinya. Dengan begitu, ia dapat membuang semua keraguan hatinya, terus melangkah menerobos seluruh hambatan-hambatan, dan ia sungguh menjadi pemenang atas hidupnya sendiri.
Jika saya mencoba melihat pada diri saya sendiri, sering kali saya menyerah, mengaku kalah kepada hambatan-hambatan dan cobaan-cobaan yang ada. Bukannya tanpa semangat juang saya menghadapinya, tetapi karena tidak adanya kesabaran dan ketekunan dari dalam diri, maka semangat itu menjadi luntur, apalagi jika menghadapi hambatan-hambatan yang semakin terjal. Namun, dengan melihat pada pribadi Celso Costantini, sungguh dapat menjadi motivasi tersendiri bagi saya. Semangat juangnya sungguh dapat memompa diri saya untuk lebih keras lagi berjuang, terutama di dalam hidup panggilan saya, demi menjadi seorang Costantinian sejati. Bagaimanapun, harus diakui bahwa tidak ada yang instan dalam hidup ini. Segala sesuatu ada prosesnya, dan di dalam proses itulah muncul segala suka-duka hidup yang dapat mengajari seseorang untuk menjadi dewasa di dalam hidup. Seseorang tidak harus menjadi sempurna untuk mencapai cita-cita dan harapan hidupnya. Bagi saya, apa yang perlu untuk mencapai cita-cita dan harapan hidup adalah menetapkan hati dengan penuh ketekunan dan keteguhan hati, dan disertai dengan doa yang tak kunjung putus, serta percaya bahwa Tuhan akan menyempurnakan diriku dengan curahan rahmat kasin-Nya, karena “yang percaya kepada-Nya, tidak akan dikecewakan” (Sir 15:4).
Cobaan dan hambatan seharusnya bukan merupakan hal-hal yang “wajib” dihindari, namun merupakan hal-hal yang wajib dilalui, yang dihadapi demi mencapai pendewasaan hidup, sehingga dapat memungkinkan seseorang lebih maju di dalam panggilan hidup mereka masing-masing. Sebab, Tuhan sendiri bersabda: “Anakku, jikalau engkau bersikap untuk mengabdi kepada Tuhan, persiapkanlah dirimu untuk menghadapi percobaan. Hendaklah hatimu tabah dan teguh. Berpautlah kepada Tuhan” (Sir 2:1-2). Sungguh jelas dijabarkan melalui sabda-Nya, bahwa percobaan itu pasti akan ada. Hanya dengan ketekunan di dalam kesabaran dan keteguhan hati, serta berpaut kepada-Nya melalui doa, maka segala percobaan di dalam hidup dapat dilalui.
Sekilas hal-hal itiu nampaknya mudah, begitu sederhana. Namun saya sadar bahwa kenyataan berbanding terbalik dengan perkiraanku, segalanya tudak semudah dan sesederhana perkiraanku. Tetapi bukan berarti saya tidak mungkin untuk melampauinya. Apa yang kini saya perlukan adalah menghidupkan di dalam diri saya, semangat ketekunan dan keteguhan hati dari Celso Costantini, dan ditambah dengan doa penuh pengharapan kepada-Nya, maka niscaya segala hal baik akan menjadi nyata di dalam hidup. Di dalam Kitab Suci sendiri tertulis bahwa:”Bapamu akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat 7:11). Maka dengan penuh pengharapan, kini saya meminta kepada-Mu , ya Bapa!
Tentu masih banyak nilai-nilai keutamaan yang dapat ditemukan dalam diri Celso Costantini. Tapi bagi saya, ketiga keutamaan inilah (ketekunan, keteguhan hati, dan iman kepada Tuhan) merupakan yang terpenting di dalam hidup untuk mencapai keberhasilan. Tentu saya tidak tertutup terhadap pandangan-pandangan yang berbeda dari saya, karena dengan menerima pandangan yang berbeda dari orang lain, saya dapat semakin kaya di dalam pengenalan saya akan Celso Costantini. Bagaimanapun baru sekitar 6 bulan saya mengenal Celso Costantini. Saya tidak berani dan tidak bisa menyatakan bahwa saya sungguh mengenalnya. Seperti halnya perkenalan para murid pertama dengan Yesus (Yoh 1:35-51). Para murid pertama itu tidak langsung begitu saja memutuskan untuk pergi mengikuti Yesus menjadi murid-Nya. Tapi melalui proses-proses dan tahapan, maka mereka dengan mantap dapat memutuskan untuk mau mengikuti-Nya, menjadi murid-Nya, bahkan mewartakan-Nya kepada orang lain. Proses yang maksud di sini adlah bagaimana mereka (murid pertama) melihat-mengikuti-tinggal (hingga mereka memperoleh jawaban atas apa yang mereka cari) dan kemudian timbul keinginan untuk mengikuti-Nya, menjadi murid-Nya. Saya melihat bagaimana pertama-tama melalui pewartaan Yohanes Pembaptis, mereka “melihat” Yesus, setelah melihat, mereka memutuskan mencoba mengikuti-Nya karena timbul suatu ketertarikan (Yoh 1:36-37). Dan di dalam “mengikuti” itu, melalui ajakan Yesus mereka mencoba untuk tinggal bersam-Nya (Yoh 1:39). Di dalam proses “tinggal bersama-Nya” inilah para murid sungguh mengenal siapa itu Yesus, sehingga mereka memutuskan mengikuti-Nya sebagai murid, dan juga mewartakan-Nya kepada orang lain (Yoh 1:41). Sama seperti para murid, melalui suatu proses, saya pun demikian. Kini saya pun mengalami proses yang bisa saya katakan nyaris serupa dengan para murid dalam pengenalan saya dengan Celso Costantini. Melalui pewartaan dari orang lain, dalam hal ini para anggota CDD yang pernah saya temui (baik secara lisan maupun tulisan), timbul ketertarikakn dari dalam diri saya untuk “melhat” serta “mengikuti” Celso Costantini, dan akhirnya kini saya “tinggal” bersamanya di rumah Novisiat ini. Bagi saya, 6 bulan bukanlah waktu yang panjang untuk mengenal seseorang, apalagi jika saya hanya dapat mengenalnya melalui buku-buku maupun pengajaran serta pewartaan dari orang lain. Jujur saya bakui bahwa hingga kini saya belum dapat mengenal Celso Costantini secara mendalam. Kini saya masih berada di dalam proses “tinggal” bersamanya, mencoba untuk lebih baik mengenalnya, sehingga lewat pengenalan yang mendalam, semoga saya dapat menjadi seorang Costantinian sejati dan dapat memperkenalkan keutamaan-kekutamaannya kepada orang lain.

Fr. Andreas Setiadi Irwan, CDD