Congregatio Discipulorum Domini

Para anggota Congregatio Discipulorum Domini (Kongregasi Murid-murid Tuhan) menghayati hidupnya sebagai murid dan senantiasa belajar pada Yesus Kristus, sang Guru Agung. Kunjungan kepada Sakramen Mahakudus menjadi ungkapan cinta dan penyerahan diri secara total. Dari sinilah para anggota menimba kekuatan untuk karya kerasulannya sebagai murid yang diutus untuk mempersiapkan orang menyambut Kristus di dalam hidupnya (bdk. Luk 10:1-12).

22 October 2013

RETRET TAHUNAN PARA IMAM DAN BRUDER CDD 2013

Retret memiliki beberapa makna yang berkaitan, yang pada umumnya berupa gagasan untuk sementara waktu menjauhkan diri sendiri dari lingkungan biasanya. Sebuah retret dapat dilakukan untuk alasan yang berhubungan dengan spritual, kesehatan, gaya hidup, ataupun hal-hal sosial atau ekologis. Sebuah retret dapat berarti sebuah periode pengalaman menyendiri ataupun pengalaman mengasingkan diri bersama dengan sebuah kelompok/komunitas. Beberapa retret dilakukan dalam kesunyian, sementara yang lainnya dilakukan dalam suasana berbagi rasa, tergantung dari pengetahuan dan praktik yang dilakukan oleh fasilitator dan/atau pesertanya. Retret religius/spiritual menyediakan waktu untuk berefleksi, berdoa, atau bermeditasi.
Para Imam dan Bruder CDD yang telah berkaul kekal melaksanakan retret tahunan bersama yang diselenggarakan di Rumah Studio Audio Visual Puskat yang berada di sinduaji, Yogyakarta. Retret kali ini diikuti oleh tiga bruder, delapan imam CDD dan seorang diakon. Retret kali ini terasa istimewa sekali karena kebetulan superior General CDD Pater John Chia CDD berada di Indonesia. Jadi bisa mengikuti juga retret bersama ini yang dilakukan pada tahun ganjil secara bersama sama sesuai dengan hasil keputusan bersama. Retret kali ini diselenggarakan dari tgl 14 – 19 Oktober 2013 dan didampingi oleh Pater Wolfgang Bock SJ. Seorang imam Jesuit yang menggumuli tema tema tafsir mimpi dan seorang pembimbing rohani handal.
Para costantinian selama seminggu diajak untuk menggumuli hati Yesus yang menjadi pusat dari hati para imam. Pastor Kastawa SJ demikianlah pastor Wolfgang dipanggil dalam nama bahasa Indonesia dengan sabar menguraikan arti hati Yesus yang menjadi pusat dan sumber dari segala tindakan dan hidup para imam. Melalui sharing, wawancara, film, kerja kelompok, para costantinian diajak untuk semakin mengenal dan menjadikan Kristus sebagai sumber dan panutan dalam hidup dan karya. Retret kali ini berjalan dengan baik dan Romo Sukamto CDD yang diserahi tugas sebagai pengatur seluruh acara retret telah menjalankan tugasnya dengan baik. Akhirnya, seluruh rangkaian retret berakhir dan semua konfrater kembali ke tempatnya masing masing untuk memulai lagi tugas tugasnya setelah mendapat kekuatan baru melalui retret kali ini. Semoga semangat Bapa pendiri, Celso Costantini menjadi pedoman hidup kita untuk melangkah dengan yakin dan pasti. Nil Contra Ecclesiam Nil Sine Ecclesia Omnia pro Ecclesia. Salam dan doa Diakon Ignas CDD

21 August 2013

Costantinian muda di bumi Khatulistiwa

Tanggal 3-4 Agustus 2013 bertempat di Rumah retret Costantini Ambawang, diselenggarakan acara bible study yang didampingi oleh para frater CDD dari komunitas skolastik Malang. Acara yang berlangsung penuh keakraban ini diikuti oleh lebih kurang 200an anak SMP Petrus Pontianak. Setelah acara bible study selesai, para costantinian Muda CDD menyempatkan diri untuk menjelajahi beberapa karya CDD di bumi khatulistiwa. Sebelumnya, para frater sempat mampir di komunitas CDD Jakarta.
Pada tanggal 5-6 Agustus 2013, para Costantinian mengadakan acara rekreasi di pulau Temajo. Kemudian pada tanggal 7-10 Agustus 2013, para Costantinian muda CDD mengasingkan diri dengan berdoa dan bekerja di Rumah pastoran CDD Rumah retret Costantini di Ambawang. Dalam keheningan rumah retret Costantini, para frater memulai hari dengan mendaraskan mazmur dan berdoa bersama dalam satu kesatuan komunitas. Doa dan misa dilakukan dalam semangat persaudaraan Costantinian. Pada waktu tertentu, para Costantinian juga mengadakan kerja bakti untuk membersihkan dan merapikan rumah pastoran CDD di rumah retret Costantini Ambawang.
Pada tanggal 9 Agustus 2013, para frater CDD mengadakan sharing bersama untuk menyatukan visi dan misi dalam mengarungi hidup panggilan di CDD. Ada banyak hal yang disharingkan dalam pertemuan persaudaraan ini. Semua hasil sharing bersama semakin memperkaya dan memberikan suatu pandangan dan terutama semangat persaudaraan dalam menjalani hidup panggilan. Malam hari, para frater mengadakan acara malam keakraban bersama dengan Sr. Felisia PRR yang bekerja di rumah retret Costantini Ambawang.
Sabtu siang, para frater meninggalkan rumah retret dan menuju ke komunitas CDD Juanda Pontianak. Sore hari para frater dengan didampingi oleh Pater Provinsial CDD Indonesia dan Pater Rudy mengadakan kunjungan kekeluargaan ke rumah orang tua Pater Rudy dan Pater Provinsial. Dalam kunjungan kali ini, suasana kekeluargaan tampak sekali dan semua mengharapkan agar diantara anggota keluarga CDD ada kebiasaan untuk saling mendoakan.
Minggu tanggal 11 Agustus 2013, Para frater mengikuti misa kudus di Gereja St Agustinus Kubu Raya yang dikepalai oleh Pastor Marianus CDD. Paroki ini pada tahun 2013 diserahkan penggembalaannya kepada imam imam CDD. Maka adalah tepat dan sungguh menggembirakan jika para Costantinian muda dapat hadir dan melihat paroki ini secara langsung. Dalam misa kudus yang dipimpin oleh Pastor herman CP dan didampingi oleh Diakon Ignas CDD ini, para frater CDD diperkenalkan kepada umat yang hadir.
Sesudah misa selesai, para frater mendapat kesempatan untuk bertatap muka dan bersuka ria dengan anak anak SEKAMI dan BIAK paroki St Agustinus. Para frater dan anak anak bernyanyi bersama dan menari bersama penuh keakraban. Tepatlah yang dikatakan oleh Bapa Celso Costantini bahwa para Costantinian harus memberikan perhatian kepada kaum anak anak dan kaum muda. Setelah acara selesai, para frater CDD masih sempat bertemu dan bernyanyi bersama OMK Agustinus yang hadir dalam pertemuan kali ini.
Setelah acara selesai, para frater mengadakan kunjungan ke rumah orangtua Fr Ega CDD dan Fr Andre CDD, dalam kunjungan kekeluargaan ini, para frater sungguh menemukan suasana keakraban dan canda tawa silih berganti dalam kunjungan ini. Akhirnya kegiatan kunjungan diakhiri dengan doa bersama dan berkat dari pater provinsial.
Sore hari para frater masih mengikuti misa bersama di Paroki St Agustinus yang dipimpin oleh Pater Provinsial dan di damping oleh diakon Ignas CDD yang menyampaikan khotbah tentang Maria diangkat ke surge. Sesudah itu, para frater diperkenalkan kepada para umat yang hadir.
Setelah itu, para Costantinian menuju ke kompleks sekolah Santu Petrus di KS Tubun, disana telah menunggu kepala kantor Yayasan Kalimantan para kepala sekolah. Kami mengadakan acara temu bersama dan kepala kantor menceritakan secara singkat sejarah dan asal mula yayasan Kalimantan yang dikelola oleh imam imam CDD di bumi khatulistiwa. Setelah itu para frater mengadakan kunjungan ke sekolah SMA dan SMP Santu Petrus serta SMK Santa Maria. Siswa siswi sungguh merasakan bahwa kunjungan ini unik karena baru pertama kali ada begitu banyak pemuda berjubah yang mengunjungi sekolah mereka. Semoga melalui kunjungan ini, tumbuh benih benih panggilan.
Akhirnya seluruh rangkaian acara diakhiri dengan evaluasi bersama antara para frater CDD dengan panitia bible study di ruang pertemuan SMP Santu Petrus bersama dengan para guru SMP yang ditunjuk sebagai panitia. Semoga semangat CDD menyebar dalam hati setiap karyawan dan terutama para Costantinian Nil Contra Ecclesiam Nil Sine Ecclesia Omnia pro Ecclesia.

TEMU PERSAUDARAAN INTERNASIONAL CDD 2013 DI PULAU DEWATA BALI INDONESIA

Kongregasi Murid-murid Tuhan mengadakan acara pertemuan persaudaraan antar propinsi yang diprakarsai oleh Generalat. Untuk tahun ini, acara “CDD gathering” dilaksanakan di Rumah Khalwat CDD tegal Jaya,Bali. Acara temu persaudaraan CDD berlangsung dari tgl 22 – 26 Juli 2013.
Kegiatan temu persaudaraan CDD adalah salah satu kegiatan yang digagas oleh generalat CDD yang berkedudukan di Taiwan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat persaudaraan dan sekaligus perhatian dari generalat kepada para konfrater CDD yang berkarya di seluruh dunia. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergiliran diantara provinsi provinsi CDD. Pada tahun awalnya, kegiatan ini dilaksanakan di propinsi Malaysia kemudian Taiwan dan sekarang Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung dari tgl 22 Juli 2013 ini dihadiri oleh para costantinian dari Malaysia, Singapura, China, Taiwan, Italia, Kanada dan Indonesia. Sekitar 30 imam, bruder dan seorang diakon CDD berkumpul, bersharing dan bergembira dalam suasana penuh keakraban.
Acara hari pertama adalah opening ceremony yang dibawakan oleh generalat CDD Pater John Chia CDD. Dalam sambutannya, Pater generalat kelahiran Malaysia ini menekankan pentingnya persaudaraan dalam CDD. Beliau mengharapkan agar melalui kegiatan ini, para costantinian semakin saling mengenal dan saling membantu dalam karya dan doa.
Setelah itu, Pater Zhang wei CDD dari komunitas Singapura didaulat untuk memberikan satu pencerahan. Dalam kesempatan ini, Pater Zhang mempresentasikan tentang spiritualitas Murid Murid Tuhan. Dengan gaya khasnya, Pater Zhang menyampaikan materinya dalam bahasa Mandarin dan diterjemahkan oleh Pater Rudy CDD ke dalam bahasa Indonesia. Sesudah itu, Pater Yuki CDD memberikan masukan tentang kepemimpinan Celso Costantini yang disampaikan dalam bahasa Inggris.
Kegiatan hari pertama diakhiri dengan doa malam bersama yang dipimpin oleh provinsi Indonesia dan doa disampaikan dalam bahasa Indonesia.
Hari kedua, acara dimulai dengan doa pagi dan misa bersama dalam bahasa Indonesia. Pater Rudy Saleh CDD memimpin misa dan didampingi oleh diakon ignas CDD. Setelah misa selesai, acara dilanjutkan dengan santap pagi. Sesudahnya, para costantinian diajak untuk berkenalan dengan karya karya pendidikan CDD di tanah Bali. Seluruh peserta Gathering di ajak untuk bertemu dengan dewan guru dan murid murid SD Tegal jaya Cabang St Yusup Malang. Para murid menyambut kedatangan CDD dengan tarian khas bali dan semua peserta diberi kalungan bunga kamboja. Setelah beramah tamah sebentar, peserta menuju ke SMP Tegal jaya yang juga merupakan sekolah cabang dari ST Yusup Malang. Di SMP ini, para Costantinian disuguhi dengan tarian khas Bali yang menggembirakan. Ditengah tengah tarian, beberapa romo diajak untuk ikut menari.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kegiatan membatik bersama yang dilakukan di rumah retret khalwat. Panitia mendatangkan guru batik dan para peserta dengan gembira mencoba membatik dengan penuh kesungguhan. Akhirnya selesai juga dan semua peserta gembira setelah melihat hasil membatiknya. Ada yang bagus ada juga yang berantakan tapi semua mengalami kegembiraan karena kebersamaan ini.
Siang hari, para Costantinian diajak untuk mengunjungi Goa Maria Air Sanih di Grotto. Tempat ziarah umat katolik yang dikembangkan oleh CDD ini dipersembahkan sebagai tempat ziarah bagi umat Katolik di kepulauan dewata. Jarak yang cukup jauh dari Rumah retret menyisakan kesempatan untuk para Costantinian bercengkrama dalam bis. Quiz-quiz tentang Celso dan CDD pun bermunculan dalam perjalanan menuju Goa Maria Air Sanih. Sesampai di Goa Maria, para peserta pertemuan persaudaraan CDD dijamu dengan kelapa muda yang segar. Sesudah itu diadakan doa Rosario bersama di gua Maria Air Sanih. Santap malam berlangsung dengan penuh keakraban di Singaraja.
Hari ketiga, dimulai dengan doa pagi dan perayaan ekaristi yang dibawakan oleh Wakil Generalat Pater Peter Zhang Qi Qian dari komunitas Singapura. Doa dan misa dibawakan dalam bahasa Mandarin. Para kesempatan ini, Pater Zhang di dampingi oleh Pater Antoni Heng CDD dari Malaysia dan Pater Yandhie CDD dari Indonesia. Dalam khotbahnya, Pater Zhang menekankan pentingnya hidup doa dan persaudaraa dalam CDD dalam persatuan dengan Tuhan, Pater Yandhie menerjemahkan khotbah ke dalam bahasa Indonesia.
Setelah makan pagi, para costantinian menuju ke kediaman Uskup Bali dan ditemui oleh Vikjen P. Yosef SVD. Berhubung Bapa uskup tidak berada di tempat. Setelah itu, peserta pertemuan CDD menuju ke gereja Katedral dan di gereja ini, Pastor paroki katedral menyambut para Romo CDD dengan hangat.
Setelah itu, semua peserta pertemuan menuju ke pantai Sanur dan kemudian bergerak ke pusat penjualan souvenir Krisna. dan sore harinya bergerak ke Garuda Wisnu Kencana Malam hari dihabiskan di tepi laut Jimbaran untuk santap malam bersama.
Hari keempat dimulai dengan ibadat pagi dan misa dalam bahasa Inggris Pada kesempatan ini, Misa dipimpin oleh Pater Francis Cong CDD dari komunitas Kanada dan didampingi oleh Pater Andrew Wong CDD dari Malaysia dan Pater Yuki CDD dari Indonesia. Setelah itu, para peserta menuju ke pantai Kuta. Dan siang hari menuju ke rumah wayang dan topeng di daerah Ubud. Setelah itu menuju ke pusat souvenir sukowati dan malam hari menyaksikan tarian barong dance di batu bulan. Acara hari ini diakhiri dengan evaluasi bersama atas seluruh kegiatan selama di pulau Bali.
Hari kelima dimulai dengan ibadat pagi dan misa dalam bahasa Indonesia yang dipimpin oleh Pater Prasetyo CDD dari Indonesia. Sesudah itu Pater Generalat menutup secara resmi seluruh rangkaian temu persaudaraan CDD yang dilaksanakan di Indonesia. Pater general berterima kasih kepada provinsial dan seluruh Costantinian CDD di Indonesia yang telah menjadi tuan rumah bagi pertemuan persaudaraan kali ini.
Semoga seluruh rangkaian acara yang telah berlangsung di provinsi Indonesia ini menumbuhkan semangat baru untuk terus menerus berkarya bagi perkembangan gereja universal dan setempat sesuai dengan semangat kongregasi : Nil Contra ecclesiam nil sine ecclesia omnia pro ecclesia

27 June 2013

PERAYAAN EKARISTI TAHBISAN DIAKON ALEXANDER IGNATIUS CDD

Hari ini tanggal 24 Juni 2013, bertempat di Gereja Katolik St Agustinus Kubu Raya Pontianak, diselenggarakan misa tahbisan diakon Alexander Ignatius Sujasan CDD. Misa yang dimulai pada pukul 16.00 ini dihadiri oleh umat dari gereja St Agustinus dan para undangan.
Frater Alexander Ignatius Sujasan CDD lahir pada tgl 25 Januari di kota Pemangkat Kabupaten Sambas. Beliau adalah putra kedua dari empat bersaudara pasangan Bong Khi Chin dan Ibu sutjiawana Chin Chin Jun. Menyelesaikan pendidikan tingkat SD di SD SWASTA SENTOSA Pemangkat, kemudian melanjutkan di SMP dan SMA KATOLIK AMKUR Pemangkat. Pada tahun 1995 meraih gelar sarjana Pendidikan Kateketik dari UNIVERSITAS SANATA DHARMA Yogyakarta. Pada tahun 2003 meraih gelar sarjana Filsafat dari SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI WIDYA SASANA Malang dan pada tahun 2007 meraih gelar magister humaniora dari SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI WIDYA SASANA Malang. Pada Tahun 2007 dan 2009 sempat mengenyam Pendidikan bahasa Mandarin di UNIVERSITAS KATOLIK FUJEN TAIWAN.
Frater Ignas CDD masuk seminari pada tahun 1998 dan sempat “cooling down” selama setahun diluar biara. Kemudian kembali masuk biara pada tahun 2007 dan mengucapkan kaul perdana pada tahun 2009 dan pembaharuan kaul pada 2012. Pada Tgl 25 Mei 2013 mengucapkan kaul kekal dalam CDD di Hall Santu Petrus Pontianak. Selama kurun waktu hidup membiara, frater yang pandai musik ini pernah berpastoral di Paroki Madiun, Surabaya, Malang, Jakarta dan Taiwan. Dalam misa ini, sebagian besar lagu-lagu yang dinyanyikan adalah hasil ciptaan dari Fr. Ignas CDD. Saat ini, Frater Ignas CDD bertugas di Pusat Pelayanan kategorial Umat Katolik berbahasa Mandarin Keuskupan Agung Jakarta.
Misa Kudus tahbisan diakon Fr Ignas CDD di pimpin langsung oleh Bapa Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronymus Bumbun dan didampingi oleh Pastor provinsial CDD propinsi Indonesia : Pastor Lodewyik CDD dan Pastor Yuki CDD, wakil provinsial CDD. Dalam misa ini, tampak hadir dalam konselebran adalah Pastor Gery Pr, Pastor George CSE, Pastor Patrick OFM.Cap, Pastor Hilarius CDD, Pastor Yandhie CDD, Pastor Rudy CDD, Pastor CP, Pastor MSA dll. Pastor Marianus CDD pastor paroki St Agustinus juga tampak hadir dan mengatur jalannya liturgi tahbisan.
Dalam khotbahnya, Bapa Uskup Agung Pontianak menekankan bahwa rasio antara pelayan dan umat yang di layani sangat tidak seimbang. Di keuskupan Agung Pontianak aja, seorang imam harus melayani 40.000 lebih umat.tentu saja perbandingan ini sangat tidak proposional. Maka setiap kali ada tahbisan, kita pantas mensyukurinya karena umat mendapat tambahan pelayan dan warta keselamatan semakin digaungkan. Bapa Uskup menekankan bahwa tuaian memang banyak tetapi sedikitlah pekerjanya. Kita harus terus menerus berdoa bagi panggilan hidup khusus ini.
Dalam perayaan ekaristi ini, suster CP komunitas kubu raya memimpin koor anak anak panti dan OMK St Agustinus serta frater CP dalam alunan music untuk liturgy tahbisan. Sebagian besar lagu yang dinyanyikan ditulis oleh Fr Diakon Ignas CDD. Misa kudus di buka dengan tarian bergaya Mandarin yang dibawakan oleh OMK St Agustinus. Tarian yang indah mempesona membuka seluruh rangkain perayaan ekaristi. Kemudian dalam persembahan, tarian bernuansa dayak menjadi pengiring persembahan ke altar Tuhan.
Setelah perayaan ekaristi selesai, dilanjutkan dengan ramah tamah di halaman gereja, umat yang datang tumpah ruah di halaman gereja untuk menikmati santapan malam yang dipersiapkan oleh WKRI St Agustinus. Malam semakin larut, pesta telah usai….marilah kita berdoa agar semangat pelayanan kita semua tetap berkobar kobar. Pada saat yang bersamaan, marilah kita menyertai diakon Ignas CDD dalam doa doa kita dan semoga motto hidup yang dipilihnya juga menguatkan kita semua tatkala kita mengalami kebimbangan : Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKU yang diambil dari Injil Yohanes 14 : 1

01 June 2013

KAUL KEKAL DALAM CDD

25 Mei 2013, Kongregasi Murid murid Tuhan Provinsi Indonesia menerima satu anggota penuh dalam komunitas CDD Indonesia. Fr Alexander Ignatius Sujasan CDD mengucapkan kaul kekal dalam kongregasi Murid –Murid Tuhan. Lebih kurang 400an orang mengikuti perayaan Ekaristi kaul kekal yang dilaksanakan di Hall Yayasan Pendidikan Kalimantan Pontianak. Perayaan ekaristi kaul kekal dalam CDD dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronymus Bumbun OFM.Cap. dalam khotbahnya, Mgr Hieronymus menekankan pentingnya menjadi murid Yesus sebagai sebuah proses seumur hidup. Menurut Bapa Uskup Pontianak ini, setiap bentuk jaminan hidup diatas permukaan bumi ditinggalkan. Hidup sebagai seorang peziarah akan ditempuh, panggilan untuk menjadi seorang misionaris atau orang utusan termasuk inti hidup seorang murid. Seorang murid Yesus ditempatkan dalam perjalanan menuju kalvari. Perayaan ekaristi kaul kekal berlangsung dengan hikmat dan dalam perayaan ini, hadir Pater Lodewyik CDD, provinsial CDD Indonesia, Pater Sukamto CDD, anggota Dewan pimpinan, Pater Marianus CDD, Pastor Paroki ST Agustinus Pontianak, Pater Sutadi Pr, Dosen STT Pastor Bonus Pontianak. Perayaan ekaristi kaul kekal disemarakkan dengan paduan suara gabungan dari SMP dan SMA Santu Petrus Pontianak. Dengan kekuatan sekitar 200 orang, paduan suara ini berhasil membawakan lagu lagu dengan penuh penghayatan. Beberapa lagu ciptaan Fr Ignas CDD yang berkaul kekal dinyanyikan dengan penuh penghayatan dan hidup. Tampak hadir dalam perayaan Ekaristi kaul kekal adalah ketua Yayasan Pendidikan Kalimantan Bpk widjaja, Keluarga Fr Ignas CDD, umat dari paroki Pemangkat, ketua dan wakil ketua Gereja Katolik berbahasa Mandarin keuskupan Agung Jakarta dll. Setelah misa selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang berlangsung dalam suasana hujan. Umat tampak bercengkerama dengan frater yang berkaul kekal sambil menikmati hidangan dan juga suguhan acara dari anak-anak TK, SD dan SMP yang berada di bawah asuhan Yayasan pendidikan Kalimantan. Seluruh rangkaian acara berakhir dalam suasana penuh kegembiraan, sebagai ungkapan syukur, kita pantas bersyukur kepada Tuhan karena seluruh rangkaian acara perayaan ekaristi kaul kekal dapat berjalan dengan baik. Kita sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan berusaha keras agar acara ini dapat berjalan dengan baik. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan dan pengorbanan kita.

19 March 2013

Menghayati Ekaristi di Tahun Iman

Fr. Agustinus Soko Kowe CDD


Tahun Iman dan Seruan Sri Paus
Paus Benediktus XVI menyebut Tahun Iman sebagai suatu kesempatan yang sangat istimewa bagi setiap umat Katolik untuk lebih mengimani pesan kasih Allah dalam diri Yesus Kristus dan menyebarluaskan (mewartakanya) ke seluruh penjuru dunia. Melalui Tahun Iman, kita sekali lagi diajak untuk bersama-sama menemukan kembali iman Katolik. Menemukan kembali Iman Katolik berarti menemukan cara Allah mencintai manusia dan bagaimana seharusnya manusia menanggapi kasih itu.
Iman itu tidak sekali jadi (instan) tetapi melalui proses yang panjang. Perjalanan iman kita untuk menyambut kasih Allah dimulai dengan pembaptisan (bdk.Rom 6:4) dan kemudian terus berlanjut sepanjang hidup. Dalam perjalanan selanjutnya terkadang orang menjadi lupa akan tugas dan tanggung-jawabnya sebagai orang yang beriman kepada Kristus Yesus. Banyak orang mulai tergiur dan terseret oleh tawaran-tawaran dunia yang sangat menarik dan memberikan kepuasan yang nyatanya bersifat semu. Orang lebih menaruh perhatian kepada konsekuensi-konsekuensi sosial, budaya, dan politis dari komitmen mereka.[1] Melalui Tahun Iman ini Gereja kembali menyadarkan kita semua dan mengundang kita semua untuk berkomitmen sekali lagi dalam melanjutkan perjalanan menuju kasih Allah.
Tahun Iman berlangsung dari tanggal 11 Oktober 2012 hingga 24 November 2013. Hal ini bertepatan dengan dua peristiwa penting dalam Gereja Katolik yakni: ulang tahun ke limapuluh pembukaan Konsili Vatikan II dan ulang tahun ke duapuluh dipublikasikannya Katekismus Gereja Katolik.    
Tahun iman merupakan panggilan untuk kembali mendekatkan diri kepada Yesus satu-satunya juru selamat dunia yang melalui misteri paskah menunjukan kasih-Nya kepada dunia dan mendorong manusia untuk bersaksi tentang imannya itu. Gereja menyebut upaya mendekatkan diri kepada Kristus sebagai suatu pertobatan. Praktisnya di tahun iman ini kita semua diajak untuk menerima Sakramen Tobat secara lebih sering. Selain itu Paus juga menganjurkan beberapa kegiatan yang harus dilakukan selama Tahun Imam seperti: membaca cerita orang kudus, berziarah, mempelajari salah satu bagian dari katekismus, menghafalkan dalam hati doa credo, berdoa kepada Santa Perawan Maria setiap hari, terlibat dalam misi paroki, membaca salah satu dokumen penting Konsili Vatikan II, aktif dalam kegiatan lingkungan dan paroki, dan terlibat serta menghayati Ekaristi yang dirayakan yang merupakan puncak iman Katolik. Semuanya itu dimaksudkan agar kita menemukan kedalaman dan kekayaan iman yang selama ini kita hayati.
Pada bagian selanjutnya secara khusus akan dibicarakan mengenai Ekaristi yang merupanan "puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja diarahkan ... tetapi juga adalah sumber dari mana seluruh kekuatan Gereja itu ... mengalir"[2] Menjadi suatu keharusan bari umat kristiani untuk lebih menghayati misteri penebusan Kristus yang terungkap dalam perayaan Ekaristi kudus tidak saja di Tahun Iman ini tetapi di sepanjang peziarahan hidup mereka di dunia ini.

 Ekaristi Puncak Iman Katolik
Iman haruslah dimaknai dalam tindakan nyata, iman tak dapat dipisahkan dari tindakan atau perbuatan karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Tindakan membantu seseorang mengakui atau menunjukan apa yang ia imani. Pengakuan iman itu diikuti oleh penerimaan kehidupan sakramental dimana Kristus hadir, bergiat dan melanjutkan karya-Nya membangun Gereja. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan itu akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksiannya secara kristiani. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan akan iman kepercayaan kita akan terasa hambar dan kering. Demikianlah yang dikehendaki oleh Paus Benediktus XVI agar ada kebangkitan dalam diri setiap umat katolik aspirasi untuk mengakui iman kepercayaanya dengan keyakinan yang baru, yang penuh kepercayaan dan harapan. Untuk itulah Tahun Iman menjadi suatu kesempatan yang sangat baik untuk memaknai secara lebih mendalam perayaan iman itu dalam liturgi, teristimewa dalam perayaan Ekaristi yang adalah puncak ke mana seluruh kegitan Gereja diarahkan dan juga menjadi sumber darimana seluruh kekuatan itu mengalir. Ekaristi menjadi puncak seluruh kehidupan kristiani.
            Pada saat Gereja merayakan Ekaristi, peringatan akan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang merupakan peristiwa sentral penyelamatan Kristus bagi dunia, Gereja sungguh-sungguh merasakan perwujutan karya penyelamatan Kristus itu. Pada peristiwa penyelamatan itu, Kristus sungguh-sungguh telah mengosongkan diri dan merendahkan diri (Fil 2:7-8), menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia. Demikianlah setiap orang dari umat beriman yang ikut ambil bagian dalam persembahan diri Kristus dapat memperoleh buah-buah yang tak kunjung kering.
            Merayakan Ekaristi berarti menghadirkan kurban Kristus. Dengan merayakan Ekaristi kita tidak hanya ingat akan kurban salib Kristus tetapi juga ingat akan kebangkitan-Nya. Mempersembahakan kurban dalam Ekaristi berarti mempersatukan diri dengan kurban Kristus karena Ekaristi sendiri adalah Allah beserta kita. Ia adalah Yesus yang hadir dalam darah daging-Nya. Ia adalah Yesus yang tersembunyi dalam rupa roti, sehingga ia sungguh hadir dalam kita yang menyantapnya.
            Dalam perayaan Ekaristi manusia ikut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus Allah dengan Kristus sebagai Imam dan Kurbannya. Lewat dan dalam Ekaristi terjadilah persekutuan antara surga dan bumi [3]. Dalam dan melalui Ekaristi iman Gereja akan kurban Kristus di kayu salib, dan perjamuan yang mempersatukan manusia dengan Bapa di surga diungkapkan. 

Ekaristi Membangun Gereja
            Ekaristi adalah pusat proses pertumbuhan Gereja karena melalui dan dengan Ekaristi kudus terungkap pokok iman kristiani yakni penebusan Kristus, wafat dan kebangkitan-Nya demi penebusan atas dosa-dosa manusia dan demi kesatuan manusia dengan Bapa di surga. Melalui dan dalam perayaan Ekaristi kita semua disatukan sebagai suatu kesatuan umat beriman yang membentuk satu tubuh dalam Kristus (Kor 10:17). Ekaristi mempersatukan semua komponen Gereja tidak saja dengan sesama tetapi lebih lagi dengan Allah, dan pada saat yang sama kita bukan saja menyambut Kristus datang dan hadir di hati kita masing-masing tetapi juga Kristus sendiri menyambut kita masing-masing untuk datang dan ambil bagian dalam karya keselamatan yang ditawarkan-Nya. Karena Kristus kita semua menjadi sahabat-sahabat-Nya (Yoh 15:16), karena Kristus pula kita semua memperoleh kehidupan “yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku akan hidup” (Yoh 6:57). Yesus yang ada dalam Ekaristi tinggal bersama kita sebagai sahabat, belahan jiwa, kekasih jiwa kita. Ia masuk dalam hati kita untuk menjadi makanan abadi bagi hidup kita.
            Persekutuan dalam Ekaristi meneguhkan Gereja dalam kesatuan sebagai tubuh mistik Kristus dengan Kristus sendiri sebagai kepala tubuhnya. Ekaristi meningkatkan pengalaman persaudaraan yang telah hadir dalam kebersamaan di meja perjamuan yang sama. Segala macam perbedaan dalam diri manusia ditangkal oleh daya pemersatu tubuh Kristus. Ekaristi menciptakan komunitas manusia yang harmonis dan membangun kesatuan dalam Gereja. Lewat kesatuannya dengan tubuh Kristus, Ekaristi secara mendalam menjadi tanda dan alat kesatuan mesra dengan Tuhan dan kesatuan dengan seluruh bangsa manusia. Semuanya, setiap warna kulit, setiap bahasa, merayakan liturgi yang sama, mempersembahkan kurban yang sama pula kepada Allah.[4] Satu Allah, satu Perantara, satu Kristus, satu altar (1Kor 10: 17).
Ekaristi memanggil semua orang yang terlibat di dalamnnya untuk mempertahankan, meningkatkan persekutuan dengan Allah Tritunggal dan persekutuan antara umat beriman[5]. Mempertahankan persekutuan ini secara utuh adalah tugas dan kewajiban para beriman katolik, yang ingin ambil bagian secara penuh dalam Ekaristi.
Kehadiran Ekaristi sendiri mengharuskan mereka yang menerimanya dengan layak untuk dapat memenuhi semua kewajiban kepada sesama manusia dan kepada Allah[6], kewajiban yang dimaksudkan di sini ialah kewajiban untuk mengamini setiap perintah Allah dan yang paling utama dari semua perintah itu ialah perintah untuk mencintai Allah melebihi segala sesuatu dan mencintai sesama manusia sebagaimana Allah telah mencintai kita dalam dan melalui Yesus Kristus. Dengan demikian Ekaristi telah menginspirasi suatu tatanan masyarakat yang teratur, suatu persekutuan Gereja yang penuh kasih dan persaudaraan sejati dengan Yesus Kristus sendiri menjadi kepala tubuhnya. Ekaristi menciptakan semangat cinta kasih di antara para anggota Gereja, secara istimewa Ekaristi mendorong persaudaraan sejati di antara mereka yang ikut ambil bagian dalam kurban yang satu dan sama kurban Kristus di salib.
Ekaristi menciptakan persekutuan dan mengembangkan persekutuan umat beriman. Dengan Ekaristi kudus yang dirayakan bersama oleh seluruh umat beriman di belahan dunia manapun dihadirkan kurban pendamaian salib Kristus bagi dunia.

Menghayati Ekaristi
Ekaristi merupakan kehadiran dan rangkuman seluruh rahasia keselamatan kristiani secara sakramental[7]. Ekaristi mengungkapkan adanya gerakan Allah kepada manusia dan gerakan manusia kepada Allah sebagai tanggapan terhadap tawaran keselamatan yang diberikan Allah sendiri kepada manusia, atau dengan kata lain di dalam Ekaristi terdapat dua dimensi sekaligus yakni anugerah dan tugas, Ekaristi adalah kemuliaan Allah dan keselamatan manusia. Di dalam Ekaristi terungkap secara menyeluruh hidup, kematian dan kebangkitan Kristus yang merupakan pokok iman kristiani. Ekaristi dengan demikian menutut adanya suatu jawaban dari pihak manusia. Allah memanggil dan menawarkan kepada manusia suatu karya keselamatan dalam diri Putera-Nya dan dari pihak manusia dituntut jawaban atas tawaran tersebut.
Pengungkapan atau pernyataan iman dalam Ekaristi tertuju kepada perwujutan dalam hidup sehari-hari. Perayaan Ekaristi hanya akan mempunyai arti jika benar-benar meneguhkan dan menguatkan iman sedemikian rupa sehingga orang dapat menghayati imannya dalam hidup sehari-hari, dalam perbuatan moral yang bertanggung jawab. Selanjutnya kita tidak boleh sekali-kali meragukan perubahan Roti dan Anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, karena inilah penghayatan iman katolik. Banyak peristiwa mujizat Ekaristi membuktikan bahwa dalam dan melalui Ekaristi kudus Allah sungguh-sungguh hadir. Peristiwa-peristiwa tersebut juga secara tidak langsung mau memberikan pesan kepada kita untuk; pertama, bahwa tidak boleh ada keraguan sedikitpun akan kehadiran Kristus Tuhan dalam rupa Roti dan Anggur yang telah dikonsekrirkan. Kedua, bahwa penghormatan sebesar-besarnya wajib kita berikan kepada Kristus dalam Ekaristi[8].
Menghayati Ekaristi dalam hidup berarti pula menaruh hormat yang besar kepada Ekaristi, mengambil bagian secara aktif dalam perayaan Ekaristi dan mempersembahkan diri seutuhnya; kehidupan kita, suka duka kita kepada Kristus. Sering terjadi bahwa orang kurang menghayati Ekaristi sebagai pokok iman, belum semua umat menempatkan Ekaristi sebagai pucak imannya. Sebagian orang menganggap Ekaristi hanya sebagai rutinitas yang diwajibkan Gereja, sebagian lagi kurang ambil bagian secara aktif di dalam perayaan Ekaristi, ada yang mengobrol selama perayaan Ekaristi, ada yang bermain Hp walaupun sudah ada peringatan untuk menonaktifkan Hp, ada yang mulai meninggalkan Gereja setelah menerima komuni. Hal-hal di atas menunjukan adanya kemerosotan dalam penghayatan iman dan kecendrungan kurang memaknai Ekaristi[9].
Semakin hari kita harus semakin menghayati dan memaknai hidup kita dengan kurban Ekaristi Kristus, semakin hari kita harus semakin mencintai Ekaristi.
Penutup
            Jika iman itu tidak disertai dengan perbuatan maka iman itu pada hakekatnya adalah mati….(Yak 2:14-18). Iman juga menuntut adanya suatu ungkapan kasih sebab iman tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah dan kasih tanpa iman hanya akan merupakan suatu perasaan yang berada di bawah kuasa kebimbangan.[10]
            Dengan menghayati Ekarsiti diharapkan iman kita tetap terpelihara dan diteguhkan dalam menghadapi terpaan gelombang dunia yang semakin hari semakin memikat dan menggiurkan, kita makin disadarkan akan panggilan hidup kita masing-masing yaitu panggilan untuk “mencintai”, sehingga pada akhirnya Firman Tuhan memperoleh kemajuan dan dimuliakan (2 Tes 3:1).



[1] Benediktus XVI, Porta Fidei, dalam Motu Proprio, Roma: 11 Oktober 2012, no 4.
[2] Ibid, No. 13.
[3] Scott Hann, 40 Kebiasaan Katolik Dan Akar Biblisnya, Malang: Dioma Publishing, 2011, hal 61.
[4] Celso Costantini, Induite Vos Armaturam Dei, terj,  Batu: Oktober 2008, hal,34
[5] Ecclesia De Eukaristia, Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja, terj, Jakarta: KWI, 2003, hal, 30.
[6] Celso Costantini, op.cit  hal,65.
[7] J. B. Banawiratama, SJ, Baptis, Krisma, Ekaristi, Jogjakarta: Kanisius, 1989, hal,189.
[8] Herman Musakabe, Menuju Hidup Yang Lebih Ekaristi, Bogor: Gradika Mardi Yuana, 2008, hal,4.
[9]  Ibid hal,6.
[10] Benediktus XVI, loc.cit.no, 14.

DAFTAR PUSTAKA

B. J. Banawiratama. SJ.  Baptis, Krisma, Ekaristi. (Jogjakarta: Kanisius, 1989) .
Benediktus XVI, Porta Fidei, dalam Motu Proprio ,Roma (11 Oktober 2012).
Costantini Celso. Induite Vos Armaturam Dei, terj  (Batu: Oktober 2008).
Ecclesia De Eucharistia, Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja, terj KWI (Jakarta: KWI, 2003).
Musakabe Herman. Menuju Hidup Yang Lebih Ekaristi. (Bogor: Gradika Mardi Yuana, 2008).
Hann. Scott 40 Kebiasaan Katolik Dan Akar Biblisnya (Malang: Dioma Publishing,2011).

19 Maret Pesta Santo Yosef, Pengukuhan Paus Fransiskus

Oleh: Shirley Hadisandjaja
 
Dari Vatikan kita telah menyaksikan pada hari ini 19 Maret, pada Hari Pesta Santo Yosef, Pelindung Gereja Universal, Pengukuhan Tahta Kepausan Bapa Suci Fransiskus.

Lautan umat datang ke Lapangan Santo Petrus untuk menghadiri Misa awal masa kepausan Paus Fransiskus. Sejak dari pukul 6 pagi tadi sudah ada antrian memasuki Lapangan. Anak-anak. Orang-orang muda, orang-orang dewasa, orang-orang lanjut usia, orang-orang sakit, para biarawan dan biarawati serta para delegasi internasional dari berbagai penjuru dunia, melambaikan bendera masing-masing Negara, selain bendera Italia, ada juga dari Amerika Serikat, India, Indonesia, Cina, Meksiko, Polandia, Jerman, Spanyol dan Australia. Yang tebanyak tentu saja bendera Argentina, kebangsaan Paus Bergoglio.
Selain daripada para peziarah, hadir pula 132 kepala negara dan pejabat pemerintahan serta para wartawan dari 81 negara.

Di dalam Homili-nya pada hari ini Paus Fransiskus yang sederhana dan lembah-lembut itu juga menampakkan keteguhan dan ketegasannya seperti halnya pendahulunya, Benediktus XVI.

Pada awal Homili, Paus Fransiskus memberikan Salam dan mengingat Paus emeritus Benediktus XVI-Joseph Ratzinger, mengartikan suatu “kebetulan yang amat kaya akan pemahaman” kenyataan bahwa pada hari ini adalah pesta nama dari “pendahulu yang terhormat”. Ia melanjutkan, “Kita dekat dengan dirinya dengan doa, penuh dengan kasih dan penghargaan”. 

Kemudian Paus menjelaskan bahwa “Allah tidak menginginkan sebuah rumah yang dibangun atas dasar manusia, namun menginginkan kesetiaan kepada firmanNya, kepada rencanaNya, dan Allah sendirilah yang membangun rumah itu, tetapi dari batu-batu yang hidup yang ditandai oleh RohNya”. Paus mengingat Santo Yosef yang “menjawab kepada panggilan Tuhan dengan kesediaan dan kesiapan dan pusat dari bakti Kristiani adalah Kristus, oleh karena itu, mari kita memelihara Dia di dalam hidup kita untuk memelihara orang lain dan karya penciptaan”.   

Paus kemudian mengatakan, “Bakti untuk memelihara tidak hanya melihat kita umat Kristiani. Santo Fransiskus Assisi mengajarkan untuk menghargai setiap makhluk hidup, lingkungan hidup.” Paus mengajak kita untuk “menghargai setiap orang, setiap individu, khususnya anak-anak, orang-orang lanjut usia, orang-orang yang paling hina dan lemah dan yang sering kali ada di pinggiran hati kita”. Untuk menjadi pemelihara di dalam segala situasi manusiawi: “sebagai orangtua, sebagai suami-istri, dan sebagai sahabat, di dalam kepercayaan satu sama lain, di dalam penghargaan satu sama lain dan di dalam kebaikan”.

Ia melanjutkan, “Kebencian, keirihatian, kesombongan mengotori kehidupan! Memelihara berarti menjaga perasaan-perasaan kita, hati kita, karena dari sana-lah lahir intensi-intensi yang baik dan buruk: yang membangun dan yang merusak! Janganlah kita merasa takut akan kebaikan, bahkan akan kelembutan!”.

Di dalam menjalankan pelayanannya, Paus melihat kepada “Santo Yosef yang rendah hati dan nyata dan seperti dirinya merangkul semua kemanusiaan”, kemudian ia mengingat penghakiman akhir dari Injil Santo Matius, “tentang belas kasih: siapa yang lapar, yang haus, orang asing, yang telanjang, yang sakit, yang dipenjara. Hanya dia yang melayani dengan belas kasih –katanya- tahu bagaimana memelihara”.

Paus kemudian melanjutkan bahwa, “Tugas dari Uskup Roma, Penerus Petrus, melibatkan juga sebuah kekuasaan karena Yesus telah memberikan kekuasaan kepada Santo Petrus, tetapi kekuasaan yang sesungguhnya adalah pelayanan dan Paus juga demi melaksanakan kekuasaannya harus lebih masuk lagi ke dalam pelayanan itu dan menerima dengan rasa kasih dan kelembutan seluruh kemanusiaan, terutama yang paling miskin, yang paling lemah, yang paling kecil”.

Paus juga mengingat Santo Paulus, “Pada masa ini juga di hadapan banyak langit kelam, kita perlu melihat sinar pengharapan dan memberikan diri kita sendiri harapan. Santo Paulus berbicara tentang Abraham, yang percaya dan kuat di dalam pengharapan di atas setiap harapan.” Ia mengulang kembali di hadapan lautan umat, “kuat di dalam pengharapan di atas setiap harapan!”.
Di akhir Homili, Paus Fransiskus berkata, “Saya memohon perantaraan Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, Santo Petrus dan Paulus, Santo Fransiskus, sehingga Roh Kudus mendampingi tugasku.”  Dan ia  meminta kepada umat, “Pregate per me!” (berdoalah untuk saya!).

Pada akhir Misa, Paus memberikan Berkat Apostoliknya dan diiringi dengan lagu Salam ya Ratu (Salve Regina) Paus pergi berdoa di hadapan patung Bunda Maria di sebelah kanan Altar.